Ngopi Sewarung
Jebakan Ijazah dan Kebisingan Para Elite
Seolah negeri ini sudah tidak memiliki persoalan ekonomi, politik, budaya, lingkungan, pendidikan, dan masa depan.
Seolah Indonesia sudah selesai bekerja keras keluar dari jerat kemiskinan, utang, kerusakan lingkungan, keterbelakangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, serta berbagai persoalan yang membuat bangsa ini belum sepenuhnya berdiri sejajar dengan negara lain.
Seolah semua persoalan besar itu sudah selesai dibicarakan dan ditemukan solusinya. Maka perhatian para elite pun bergeser kepada sesuatu yang sebenarnya memiliki ruang penyelesaian sendiri: soal ijazah.
Ijazah Jokowi dan Gibran.
Politisi, akademisi, pengamat, ahli hukum, ekonom, media, bahkan sebagian masyarakat, seakan terseret ke dalam pusaran perdebatan yang tidak pernah selesai.
Seolah masa depan bangsa akan menjadi lebih baik hanya dengan terus membicarakan ijazah.
Padahal persoalannya bukan sekadar ijazah. Persoalannya adalah perhatian.
Sebuah bangsa bisa kehilangan masa depan bukan hanya karena kekurangan sumber daya, tetapi karena terlalu banyak menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak membawa bangsa itu ke mana-mana.
Waktu adalah modal. Pikiran adalah kekayaan. Perhatian adalah energi.
Jika semuanya habis untuk perdebatan yang berputar-putar, siapa yang memikirkan pendidikan anak-anak kita? Siapa yang memikirkan petani, nelayan, lapangan pekerjaan, pangan, energi, teknologi, lingkungan, kebudayaan, dan masa depan generasi berikutnya?
Jangan sampai bangsa ini sibuk memperdebatkan selembar kertas, sementara kehilangan kesempatan untuk menulis halaman baru sejarahnya sendiri.
Jika persoalan ijazah memang memiliki sengketa hukum, biarkan hukum bekerja. Bukti diperiksa, argumen diuji, lalu keputusan dibuat.
Selesai.
Negara hukum tidak seharusnya menjadikan setiap persoalan hukum sebagai tontonan tanpa akhir.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika para elite ikut terseret ke dalam arus kegaduhan tersebut. Isu yang semestinya memiliki ruang penyelesaian hukum berubah menjadi konsumsi publik yang terus diproduksi, diperpanjang, dan diberi panggung.
Akhirnya yang tumbuh bukan pencarian kebenaran, melainkan kebisingan.
Dan kebisingan yang terus dipelihara bisa membuat bangsa kehilangan kemampuan mendengar suara persoalan yang sesungguhnya.
Mungkin inilah jebakan paling berbahaya: ketika kita merasa sedang berpikir, padahal sebenarnya hanya sedang mengikuti arus.
Kita merasa kritis, padahal hanya bereaksi.
Kita merasa sedang memperjuangkan kebenaran, padahal mungkin hanya memperpanjang perdebatan.
Para elite seharusnya tidak berlomba menjadi komentator atas setiap kegaduhan. Mereka seharusnya menjadi pemecah persoalan.
Bangsa ini membutuhkan pikiran yang bekerja, bukan sekadar pikiran yang berbicara.
Sebab ukuran kecerdasan sebuah bangsa bukan seberapa ramai mereka berdebat, tetapi seberapa banyak persoalan nyata yang mampu mereka selesaikan.
Ijazah hanyalah selembar dokumen.
Tetapi masa depan bangsa bukan selembar dokumen.
Masa depan adalah pekerjaan besar yang membutuhkan waktu, pikiran, keberanian, ketekunan, dan fokus.
Jangan sampai kita terjebak pada jebakan ijazah, sementara persoalan bangsa yang jauh lebih besar berjalan tanpa perhatian.
Yang kita perlukan bukan lebih banyak kegaduhan.
Yang kita perlukan adalah kesadaran untuk kembali bekerja.
Bekerja membangun pendidikan.
Bekerja memperbaiki ekonomi.
Bekerja menjaga alam.
Bekerja membangun kebudayaan.
Bekerja menciptakan lapangan pekerjaan.
Dan bekerja menyiapkan masa depan anak-anak bangsa.
Sebab sejarah tidak pernah bertanya berapa banyak kita berdebat.
Sejarah hanya akan mencatat:
Apa yang telah kita kerjakan untuk masa depan bangsa ini?
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







