Ngopi Sewarung
Gerakan Guru Besar Otak Kecil
By Uten Sutendy
Semakin nyata bahwa kebencian bisa membunuh potensi kecerdasan siapa pun hingga tak bersisa.
Coba bayangkan, begitu banyak akademisi, kaum intelektual, dan tokoh agama yang terlibat dalam pusaran politik praktis. Belakangan, bahkan terdengar kabar tentang sekelompok guru besar dari berbagai perguruan tinggi yang bersedia mengorbankan waktu dan energinya untuk ikut-ikutan bermain dalam panggung politik.
Terlibat dalam politik praktis tentu sah-sah saja. Salurannya pun sudah tersedia melalui partai politik.
Namun, kalau politik praktis yang dimainkan hanya melalui aksi di jalanan dan panggung media sosial, apa sebenarnya yang hendak dicapai? Apalagi jika narasi yang dibangun sebatas mendorong orang lain untuk saling menjatuhkan dan menyebarkan kebencian. Untuk apa?
Jika tujuannya mengubah keadaan dan membangun negeri ini menjadi lebih baik, bukankah ada banyak cara yang jauh lebih bermartabat untuk dilakukan?
Para akademisi bisa memperkuat jaringan antarkampus guna meningkatkan kualitas pendidikan dan memperbesar kontribusi perguruan tinggi sebagai salah satu sumber lahirnya kepemimpinan yang kuat, cerdas, dan berintegritas.
Mereka juga bisa ikut membenahi partai politik agar lebih mengedepankan etika, logika, dan kualitas dalam berpolitik, sekaligus memperbaiki proses pendidikan dan pengaderan politik.
Atau, memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah tentang cara mengatasi kesulitan ekonomi, kebobrokan moral, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan bangsa lainnya.
Bukankah itu jauh lebih produktif?
Lantas, mengapa yang dilakukan justru sebaliknya? Mengapa energi intelektual yang seharusnya digunakan untuk membangun peradaban malah diarahkan pada gerakan yang berpotensi kontraproduktif?
Mau ikut-ikutan menjatuhkan wakil presiden?
Ini gerakan para guru besar atau gerakan sekelompok orang berotak kecil?
Turun gunung bagi kaum intelektual tentu merupakan hal yang baik. Saya setuju. Apalagi jika mereka turun ke tengah masyarakat dengan membawa kekuatan intelektual, kejernihan berpikir, dan argumentasi rasional.
Namun, jika turun gunung hanya bermodalkan kebencian, dengan tujuan mengganggu dan menjatuhkan orang yang sedang bekerja, itu bukanlah bentuk pengabdian intelektual.
Itu justru tindakan yang merendahkan derajat dan martabat sendiri sebagai guru besar.
Seorang guru besar semestinya menjadi teladan dalam berpikir jernih, bersikap kritis, dan menyampaikan gagasan berdasarkan argumentasi yang kuat. Bukan malah terseret ke dalam pusaran kebencian yang mengaburkan nalar dan menumpulkan kecerdasan.
Sekali lagi, gerakan semacam itu bukanlah gerakan yang mencerminkan keluhuran seorang guru besar, melainkan justru memperlihatkan betapa kecilnya cara berpikir ketika kebencian mengambil alih akal sehat.
Sebab, gelar akademik setinggi apa pun tidak otomatis menjamin kebesaran jiwa dan keluasan pikiran.
Pertanyaan besarnya: sudah sedemikian parahkah proses pembodohan yang berlangsung di negeri ini, hingga para guru besar di perguruan tinggi pun ikut terpapar?
Jangan-jangan, ketika kebencian sudah menguasai pikiran, gelar guru besar hanya menjadi kebesaran nama tanpa kebesaran nalar.
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







