Rizal Fadillah: Kaki Kekuasaan Prabowo Melemah, Rezim Kakistokrasi Rentan Dukungan Rakyat
INDOVIEWNEWS.COM— Pemerhati Politik dan Kebangsaan Rizal Fadillah menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi persoalan serius dalam hal kekuatan dan kemandirian kekuasaan. Dalam rilis yang diterima media, Rabu (26/8/2026), Rizal bahkan menyebut pemerintahan Prabowo dan pemerintahan sebelumnya di era Presiden Joko Widodo sebagai rezim kakistokrasi, bukan rezim demokrasi.
“Apakah pemerintahan Prabowo atau sebelumnya Jokowi adalah rezim demokrasi ? Tentu tidak. Yang pasti adalah rezim oligarki atau lebih pas disebut rezim kakistokrasi,” kata Rizal.
Rizal kemudian mengutip pertanyaan penyair Amerika James Russell Lowell pada 1896:
“Is ours a government of the people by the people for the people, or a kakistocracy for the benefit of knaves at the cost of fools ?” kata Rizal.
Menurut Rizal, istilah kakistokrasi menggambarkan pemerintahan yang menurut penilaiannya memberikan keuntungan kepada kelompok tertentu dengan mengorbankan masyarakat. Ia menilai pemerintahan Prabowo masih memiliki keterkaitan kekuasaan dengan pemerintahan Jokowi.
“Jawaban untuk rezim Prabowo dan Jokowi adalah bukan demokrasi tetapi kakistokrasi, yakni rezim terburuk yang hanya memberi keuntungan bagi para penipu dengan mengorbankan orang-orang bodoh. Pemerintahannya diisi oleh orang yang tidak kompeten. Mereka hanya memikirkan keuntungan diri, famili, kroni, atau partai politiknya sendiri,” ujarnya.
Sebut Kekuasaan Prabowo Berdiri di Dua Kaki
Rizal menggambarkan konfigurasi kekuasaan saat ini sebagai pemerintahan yang berdiri di dua kaki. Menurut dia, satu kaki berada pada Prabowo, sedangkan kaki lainnya masih berada pada Jokowi.
“Rezim Prabowo berdiri di satu kaki sementara Jokowi masih berdiri dengan kaki satunya lagi. Gabungan kedua kaki ternyata menampilkan pemerintahan yang tidak mandiri, buruk, bahkan busuk. Akibatnya pemerintahan Prabowo menjadi kakistokrasi. Kakistos artinya terburuk, cratein bermakna kekuasaan. Kekuasaan terburuk yang dipimpin oleh figur buruk, Prabowo dan Gibran,” kata Rizal.
Ia kemudian menyoroti apa yang disebutnya sebagai semakin lemahnya “kaki kekuasaan” Prabowo.
“Kaki kekuasaan Prabowo yang lemah terus melemah. Di samping dikelilingi Menteri yang menjadi kaki Jokowi, juga aparat baik Polri maupun TNI tidak full under command. Ditambah kaki Prabowo yang goyah jika di mimbar akibat omon belepotan. Mimbar itu tidak bersahabat,” ujar Rizal.
“Melemah karena Prabowo memang bukan pemimpin yang mumpuni, tidak kuat lama berdiri,” lanjutnya.
Singgung Jokowi dan Gibran Menuju 2029
Rizal juga menyinggung posisi Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peta politik menuju Pemilu 2029.
“Jokowi yang memiliki kaki Gibran di istana terus memantau peluang, walau kaki si bocil kecil tetapi keinginannya besar. Ingin jadi Presiden nanti 2029, katanya. Akan tetapi menurut pemimpin operasi Budi Arie Setiadi hal itu bisa dipercepat, situasi politik harus diantisipasi. Jokowi setuju saja dan siap tentunya. Mumpung Prabowo melemah,” katanya.
Rizal selanjutnya menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran rentan terhadap dukungan rakyat. Ia juga menggunakan istilah keras untuk menggambarkan kondisi politik yang menurutnya terjadi saat ini.
“Rezim kakistokrasi Prabowo Gibran rentan dukungan rakyat. Kedaulatan rakyat sudah dirampok oleh Prabowo, Jokowi, dan oligarki. Tersisa rakyat bodoh pendukungnya. Rezim penipu itu berjoget bahagia di tengah penderitaan rakyat, for the benefit of knaves at the cost of fools,” ujar Rizal.
Ia menilai Jokowi masih memiliki kepentingan politik untuk mempertahankan pengaruhnya melalui Gibran.
“Kaki Jokowi ingin ajeg berdiri menggeser Prabowo. Gibran direkayasa instan untuk dewasa. Itu permainan elit oligarki di era penjajahan oligarki atas demokrasi, kakistokrasi namanya,” kata Rizal.
Serukan Rakyat Merebut Kembali Kedaulatan
Di bagian akhir rilisnya, Rizal menyerukan masyarakat untuk bergerak merebut kembali apa yang disebutnya sebagai kedaulatan rakyat.
“Rakyat harus berbuat dan bergerak untuk merebut kambali kedaulatannya. Para pencuri itu tidak boleh dibiarkan bebas merajalela. Mereka harus ditangkap dan dibasmi. Sakit mesti diobati, kaki busuk layak diamputasi,” ujarnya.
Rizal kemudian menyerukan perubahan sistem pemerintahan dari kakistokrasi menjadi demokrasi.
“Mari kita ubah kakistokrasi menjadi demokrasi kembali. Bisa dan harus bisa !.” cetusnya.
Catatan cover both sides: Pernyataan mengenai Prabowo, Jokowi, Gibran, Budi Arie Setiadi, serta penilaian mengenai Polri dan TNI dalam berita ini merupakan pandangan dan pernyataan Rizal Fadillah sebagaimana disampaikan dalam rilis tertanggal 26 Agustus 2026. Pernyataan tersebut tidak dengan sendirinya merupakan fakta hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, tidak terdapat tanggapan dari Prabowo Subianto, Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, Budi Arie Setiadi, maupun pihak terkait lainnya dalam materi rilis yang diterima media.






