Rizal Fadhillah Soroti Pemerintahan Prabowo: Reshuffle Kabinet Dinilai Tak Sesuai Tuntutan Rakyat
INDOVIEWNEWS.COM— Pemerhati Politik dan Kebangsaan Rizal Fadhillah menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu segera melakukan perubahan besar dalam pengelolaan pemerintahan. Ia menyebut reshuffle kabinet sebagai tuntutan masyarakat yang harus direspons pemerintah.
Menurut Rizal, pemerintah justru dinilai tidak peka terhadap kritik publik. Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah menteri yang disebutnya merupakan bagian dari pemerintahan Presiden Joko Widodo.
“Reshuffle kabinet adalah tuntutan rakyat demi perbaikan pengelolaan negara. Pemerintahan Prabowo buta dan tuli terhadap tuntutan rakyat tersebut,” kata Rizal dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Rizal mengkritik sikap pemerintah yang menurutnya masih mempertahankan sejumlah figur dari era Jokowi. Ia juga mempersoalkan pujian terhadap kinerja pemerintah yang dinilainya tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.
“Menteri-menteri titipan Jokowi bukannya diganti malah dipuji-puji. Kinerja brat bret brot disebut sangat berprestasi,” ujarnya.
Soroti pergantian pejabat keuangan
Rizal juga menyoroti pergantian pejabat di sektor keuangan yang menurutnya berlangsung secara mendadak dan janggal. Ia menyebut adanya perubahan posisi Menteri Keuangan Purbaya yang diklaimnya terjadi secara tiba-tiba.
“Mendadak ditelpon Prabowo saat rapat bersama DPD. Dinilai sebagai tindakan janggal dan ugal-ugalan,” kata Rizal.
Ia kemudian mempertanyakan figur pengganti yang disebutnya memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan Jokowi.
“Penggantinya Suahasil Nazara orang Jokowi lama. Ia mantan Wamenkeu dalam pemerintahan Jokowi dan berlanjut pada masa Prabowo,” ujarnya.
Rizal mempertanyakan alasan di balik penempatan figur tersebut di posisi strategis pengelolaan keuangan negara.
“Apakah kedudukannya itu swa hasil atau hasil swa oligarki?” kata Rizal.
Nilai Prabowo tidak memiliki arah politik yang jelas
Lebih jauh, Rizal menilai Presiden Prabowo memiliki persoalan dalam menentukan arah dan sikap politik pemerintahannya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat posisi Presiden rentan terhadap pengaruh kelompok di sekitarnya.
“Prabowo itu Presiden yang tidak jelas arah dan sikap politiknya. Independensi dan kemandiriannya di samping lemah juga rapuh,” katanya.
Rizal bahkan menggunakan istilah keras untuk menggambarkan kondisi tersebut.
“Jenderal korps pembebas sandera justru bahagia dijadikan sandera. Bintang hanya hiasan dan bahan tertawaan orang-orang sekitar,” ujarnya.
Menurut Rizal, kelemahan tersebut berpotensi membuka ruang bagi pihak-pihak lain untuk memengaruhi kebijakan pemerintahan.
“Kerapuhan Prabowo menjadi celah dan semangat bagi orang di belakang untuk melakukan penguasaan dan pengendalian. Prabowo memancing kemarahan yang semakin meluas,” kata Rizal.
Singgung kekhawatiran Muhammad Said Didu
Rizal juga menyinggung pandangan tokoh kritis Muhammad Said Didu. Menurut dia, Said Didu yang selama ini dinilainya berusaha memberikan tafsir positif terhadap kebijakan Prabowo mulai menunjukkan kekhawatiran.
“Prabowo lemah, payah, dan bakal patah,” ujar Rizal mengutip penilaian Said Didu.
Rizal mengatakan Said Didu melihat adanya potensi pemanfaatan kemarahan publik oleh kelompok tertentu untuk mendorong perubahan politik.
Menurut Rizal, terdapat enam kelompok yang berpotensi mengalami kemarahan, yakni masyarakat miskin, kelas menengah, kelompok oligarki yang disebutnya terdampak penertiban, aktivis dan pendukung pemerintah yang mulai frustrasi, kepala daerah akibat pemotongan dana daerah, serta masyarakat yang kecewa terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Surat terbuka yang dilayangkan M Said Didu entah didengar atau tidak oleh Prabowo butul, buta dan tuli,” kata Rizal.
Dorong perubahan kepemimpinan
Di bagian akhir pernyataannya, Rizal kembali melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Prabowo. Ia menyebut perlunya evaluasi serius terhadap kemampuan Presiden dalam menjalankan pemerintahan.
“Memang Prabowo itu payah dan parah. Semakin kompleks ketidakbecusannya,” ujar Rizal.
Rizal juga menyinggung kondisi kesehatan Presiden. Namun, pernyataan tersebut merupakan penilaian pribadi dan tidak disertai informasi medis yang dapat diverifikasi.
“Kesehatannya perlu diperiksa serius. Pemimpin negara harus sehat mental, emosional, moral dan intelektual,” katanya.
Ia menambahkan bahwa latar belakang militer maupun pangkat seseorang, menurutnya, tidak otomatis menjamin kualitas kepemimpinan.
“Pangkat Jenderal tidak menjadi jaminan jika dalam prakteknya berjiwa tidak ksatria, pengecut, dan khianat,” ujar Rizal.
Rizal kemudian menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan pergantian Presiden dan Wakil Presiden. Ia menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan nasional menurutnya bukan sesuatu yang tabu sepanjang dilakukan sesuai mekanisme konstitusional.
“Negara besar tidak boleh dipimpin oleh orang yang merasa besar tapi takut pada anak kecil,” katanya.
“Mengganti Presiden bersama-sama Wakil Presiden bukanlah hal yang tabu dalam menjaga NKRI. Konstitusi RI telah mengatur secara terang benderang,” ujar Rizal.
“Sangat terang benderang,” pungkasnya.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







