IBADAH VERTIKAL DAN IBADAH HORIZONTAL
Mohammad Rosyad
Terdapat ungkapan populer di tengah kaum muslimin yaitu hablum minallah dan hablum minannas.
Ungkapan tersebut bersumber dari Al Qur’an Surat Ali Imron 112 yang berbunyi:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ…
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang hablum minallah (tali perjanjian dengan Allah maksudnya ketaatan kepada Allah) dan hablum minannas (tali perjanjian dengan manusia, maksudnya berbuat baik kepada sesama manusia) dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan”….
Ayat ini memberi petunjuk pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta melalui ibadah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia melalui akhlak yang baik secara seimbang.
Orang yang tidak secara simultan menjaga kedua hubungan tersebut, berdasarkan ayat tersebut akan mendapatkan kehinaan dan kemurkaan dari Allah.
Melakukan ibadah ritual berupa shalat dzikir, membaca Al-Qur’an adalah memang harus menjadi aktifitas utama orang yang beriman. Ibadah tersebut harus dilakukan dengan sepenuh hati, sehingga membekas didalam jiwa.
Ibadah seharusnya dilakukan secara insan. Rasulullah pernah ditanya: “apa itu ihsan ? Beliau menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
Anda menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat anda.
Ibadah ritual yang dilakukan dengan ihsan akan membekas kedalam jiwa. Aksn senantiasa merasa dekat dengan Allah.
Perasaan selalu dekat dengan Allah akan terlihst pads hablum minannas.
Tanda seseorang dekat dengan Allah bukan semata-mata terlihat saat melakukan ibadah ritual. Tetapi terlihat adanya pengaruh nilai ketuhanan terhadap dirinya.
Sebab semakin sering ia melakukan ibadah ritual dan menghayati kehadiran-Nya, semakin banyak bimbingan ia temukan bagaimana seharusnya menjalani hidup.
Perlahan kedekatan itu akan terlihat dari caranya membawa diri. Bukan hanya saat beribadah, tetapi juga dalam keseharian.
Lisannya lebih terjaga. Ucapan yang kotor mulai ditinggalkan dan perkataan yang melukai lebih ditahan. Karena sadar setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban.
Prasangkanya lebih terjaga. Ia tidak mudah menuduh atau terburu-buru menilai, karena apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Amarahnya terkendali. Saat marah ia menahan diri perkataan yang tidak baik. Menahan diri untuk melakukan sesuatu yang di kemudian hari akan disesali.
Cara melakukan orang lainpun juga semakin baik. Lebih lembut dalam bersikap, lebih mudah menghargai dan lebih mudah memaafkan. Seluruh anggota tubuhnya mudah melakukan kebaikan.
Sebab kedekatan seseorang dengan Allah bukan sekadar sering melakukan ibadah ritual, tetapi seberapa jauh nilai nilai-nilai ketuhanan hadir dalam kehidupan.
Dzikirnya tidak terhenti di lisan saja, tetapi hidup dalam sikap, ucapan dan caranya memperlakukan orang lain.
Wallahu Muwaffiq.
Mohammad Rosyad
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







