PERTARUNGAN DIDALAM DIRI MANUSIA
By Mohmmad Rosyad
Dalam kitab Aja’ibul Qulub (Keajaiban Hati)—yang merupakan bagian dari mahakarya Ihya Ulumuddin—Imam Al-Ghazali menggunakan alegori babi, anjing, setan, dan hakim (orang bijak) untuk menggambarkan empat unsur atau kekuatan yang saling bertarung di dalam hati setiap manusia.
Makna dari masing-masing karakter tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Babi (Simbol Syahwat)
Babi digambarkan sebagai makhluk yang rakus dan tamak. Dalam diri manusia, ini adalah simbol dari sifat bahimiyyah (kehewanan/syahwat).
Manifestasi dari sifat tersebut adalah berupa keinginan yang tak terbatas terhadap makanan, kenikmatan seksual, harta benda, dan kemewahan duniawi.
Sifat babi di dalam diri tidak peduli apakah sesuatu itu halal atau haram, yang penting keinginannya terpuaskan.
2. Anjing (Simbol Amarah)
Anjing digambarkan sebagai makhluk yang suka menggigit, menyalak, dan menyerang. Dalam diri manusia, ini merepresentasikan sifat sabu’iyyah (kebuasan/amarah).
Sifat tersebut dimanifestasikan dengan mudah tersinggung, pendendam, gemar bermusuhan, merasa angkuh, dan suka menjatuhkan orang lain dengan dalih “harga diri” atau ego.
3. Setan (Simbol Tipu Daya dan Provokator)
Setan mewakili sifat syaithaniyyah (kelicikan). Tugasnya adalah menjadi provokator yang mengompori si “babi” dan si “anjing”.
Sifar setan terwujud dengan terus membisikkan tipu daya agar manusia mengumbar syahwat dan amarahnya. Setan membuat perbuatan buruk (seperti ketamakan dan kemarahan) terlihat indah, rasional, dan benar di mata manusia.
4. Hakim / Orang Bijak (Simbol Akal)
Ini adalah akal sehat dan cahaya ketuhanan (rabbaniyah) yang diberikan Allah kepada manusia.
Seharusnya menjadi pemimpin di dalam tubuh. Akal bertugas mendeteksi tipu daya setan, kemudian menjinakkan serta mengendalikan syahwat (babi) dan amarah (anjing) agar berjalan sesuai aturan agama.
Ada dinamika pertarungan tidak pernah berhenti didalam hati setiap manusia. Ketiga Sifat buruk sering mengeroyok akal
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa masalah terbesar manusia adalah akal (si bijak) sering kali kalah suara atau terjajah oleh ketiga unsur lainnya.
Jika manusia selalu menuruti ketamakan dan nafsunya, ia pada hakikatnya sedang tunduk dan menyembah “babi” di dalam dirinya.
Jika manusia selalu menuruti amarah, ego, dan kesombongannya, ia sedang tunduk kepada “anjing”.
Jika “setan” berhasil memenangkan pertarungan tersebut, manusia tersebut bisa menjadi lebih buruk dan lebih jahat daripada babi dan anjing yang sebenarnya.
Tujuan dari penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam ajaran Islam adalah memperkuat posisi Akal dan Iman agar mampu mendisiplinkan syahwat dan amarah, bukan untuk menghilangkan keduanya sama sekali. Karena manusia tetap butuh syahwat untuk bertahan hidup dan amarah untuk mempertahankan diri secara proporsional.
Kita berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَهْوَاءِ
Allahumma inni a’udzu bika min munkarootil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek.”
(HR. Tirmidzi No. 3591)
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







