spot_img
spot_img
Jumat, Oktober 30, 2026
BerandaOpiniPodium Jalanan: Ketika Salib dan Tiga Jari Menggugat Pemerintah

Podium Jalanan: Ketika Salib dan Tiga Jari Menggugat Pemerintah

spot_img

Podium Jalanan: Ketika Salib dan Tiga Jari Menggugat Pemerintah

Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)

📌 Pendahuluan: Bising dalam Kesunyian

Jalanan Jakarta pada 28 Oktober 2026 tidak sedang kekurangan pengeras suara, tetapi pesan paling bising justru lahir dari kesunyian. Di antara riuh yel-yel dan kepulan asap, sebuah salib merah raksasa membelah kerumunan, berdampingan dengan ribuan salam tiga jari yang diacungkan ke udara.

Dalam ruang politik, gestur dan benda acap kali bergerak lebih cepat daripada ribuan lembar rilis pers. Ketika retorika pejabat mulai kehilangan daya sihirnya, simbol-simbol inilah yang mengambil alih podium jalanan. Secara semiotika, tanda-tanda ini tidak jatuh dari langit kosong. Ia meminjam ingatan masa lalu, berbenturan dengan realitas hari ini, dan melahirkan makna baru yang meresahkan kekuasaan.

âš« Salib Merah: Pengorbanan di Balik Angka Pertumbuhan

Mari bedah simbol pertama: salib merah raksasa yang dipikul mahasiswa PMKRI. Di dalam ruang liturgi, salib adalah simbol pengorbanan dan penebusan. Namun di bawah terik matahari Jakarta, maknanya mengalami mutasi radikal.

Salib itu menjadi saksi bisu atas jeritan masyarakat adat Papua yang kehilangan tanah ulayat dan ruang hidup akibat ekspansi proyek pembangunan. Ketika pemerintah merapal mantra “Pertumbuhan Ekonomi” dan “Proyek Strategis Nasional (PSN)” sebagai tiket menuju masa depan, salib merah itu hadir seperti tanda silang tebal. Ia adalah interupsi visual yang menggugat: siapakah sesungguhnya yang sedang dikorbankan di atas altar pembangunan?

BACA JUGA :  Kasus Botok Harus Menjadi Ujian Bagi Pemerintah Prabowo

Salib ini mengingatkan kita bahwa ketika angka investasi meroket, ada identitas budaya dan kelestarian alam yang sedang dipaku dan sekarat. Pembangunan tanpa keadilan sosial tak lebih dari sekadar penaklukan yang diperhalus dengan angka-angka statistik.

✋ Tiga Jari: Trisula Kesadaran yang Menolak Dibodohi

Di sudut lain kerumunan, benteng perlawanan itu diperkuat oleh salam tiga jari dalam aksi #IndonesiaSadar. Gestur yang populer lewat distopia fiksi The Hunger Games ini telah menjelma menjadi bahasa universal generasi yang gelisah.

Di Indonesia, tiga jari itu melambangkan trisula kesadaran:

– ✅ Sadar dipalak oleh pajak yang ugal-ugalan
– ✅ Sadar dibakar oleh ketidakadilan hukum
– ✅ Sadar dimiskinkan secara struktural

BACA JUGA :  SEGEL KARHUTLA, UJIAN KETEGASAN NEGARA

Tiga jari yang menunjuk ke langit adalah simbol penolakan untuk menjadi bodoh. Ia adalah deklarasi dari generasi muda yang menolak sekadar menjadi penonton di tengah karut-marut anggaran negara, militerisasi ruang sipil, dan penyusutan ruang demokrasi.

🌅 Ironi Sumpah Pemuda: Seremonial vs Realitas

Ironi ini memuncak karena terjadi tepat pada Hari Sumpah Pemuda. Saat para elite sibuk bersolek dalam upacara seremonial dan berpidato tentang persatuan nasional, jalanan justru menyadarkan kita pada kenyataan pahit:

Apa arti bertanah air satu jika tanah rakyat dirampas? Apa arti berbangsa satu jika kebijakan hanya berpihak pada segelintir oligarki?

Jalanan telah berubah menjadi arena pertarungan makna yang sengit. Pemerintah sibuk memproduksi narasi stabilitas dan kemajuan, sementara demonstran meresponsnya dengan simbol luka dan pembangkangan.

📢 Penutup: Simbol yang Tak Bisa Dihapus

Simbol-simbol ini tidak akan mati hanya dengan dibalas pidato normatif atau janji manis di televisi. Salib merah menganga meminta perlindungan nyata atas hak adat, sedangkan salam tiga jari menuntut transparansi total dan ruang kritik yang bersih dari intimidasi.

BACA JUGA :  Ilusi Nyali DPR: Mengapa Pemakzulan Gibran Hanya  Macan Kertas

Penguasa boleh saja menutup telinga dari bisingnya demonstrasi, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menghapus simbol yang terlanjur mengendap menjadi ingatan kolektif generasi digital. Jika negara baru terbangun setelah gelombang protes menggulung segalanya, maka masalahnya sudah jelas:

Bukan rakyat yang terlalu berisik, melainkan penguasa yang terlalu lama menikmati keheningan di dalam menara gading mereka.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Ilusi Nyali DPR: Mengapa Pemakzulan Gibran Hanya  Macan Kertas
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img