spot_img
spot_img
Senin, September 21, 2026
BerandaNewsSutoyo Abadi Soroti Ucapan Prabowo “Saking Pintarnya Jadi Goblok”, Singgung Catatan Lee...

Sutoyo Abadi Soroti Ucapan Prabowo “Saking Pintarnya Jadi Goblok”, Singgung Catatan Lee Kuan Yew

spot_img

Sutoyo Abadi Soroti Ucapan Prabowo “Saking Pintarnya Jadi Goblok”, Singgung Catatan Lee Kuan Yew

INDOVIEWNEWS.COM Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar dengan kalimat, “saking pintarnya jadi goblok”, saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pernyataannya, Sutoyo mengaitkan ucapan tersebut dengan catatan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew mengenai Prabowo dalam buku From Third World to First: The Singapore Story (1965–2000).

Sutoyo merujuk halaman 316 buku tersebut, yang memuat penilaian Lee Kuan Yew mengenai Prabowo Subianto.
“He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.”

Kalimat tersebut diterjemahkan sebagai penilaian bahwa Prabowo dikenal cerdas dan ambisius, tetapi impulsif serta gegabah dalam sejumlah langkah dan keputusan. Rujukan terhadap kutipan tersebut juga ditemukan dalam sejumlah sumber sekunder yang mengutip buku Lee Kuan Yew.

Sutoyo juga mengutip bagian berikutnya yang menurutnya memperkuat gambaran tersebut.
“I said Prabowo had a reckless streak in him.”

BACA JUGA :  Denny Indrayana Gugat Gibran ke MK, Sutoyo Abadi: Mundur atau Dipaksa Mundur

Menurut Sutoyo, istilah reckless dalam konteks tersebut dapat dimaknai sebagai kecenderungan bertindak nekat atau kurang mempertimbangkan konsekuensi.

Sutoyo kemudian menghubungkan catatan tersebut dengan pernyataan Prabowo dalam pidato HUT ke-28 PAN. Dalam pidato itu, Prabowo memang mengatakan:

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” dikutip Sutoyo.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo membahas kritik dari sejumlah pakar terhadap pemerintah. Dalam pidato yang sama, Prabowo menekankan pentingnya kejujuran intelektual dan mengatakan kepakaran seharusnya digunakan untuk kepentingan bangsa.

Menurut Sutoyo, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai pilihan kata, tetapi juga menyangkut dampak komunikasi seorang kepala negara terhadap ruang publik.

Ia menilai ucapan “para pakar goblok” berpotensi memperuncing hubungan antara pemerintah dengan kalangan akademisi dan pakar. Menurutnya, perdebatan mengenai kebijakan semestinya tetap bertumpu pada argumentasi, data, serta pertukaran gagasan, bukan bergeser menjadi saling melabeli.

Sutoyo juga menilai bahasa yang digunakan pejabat publik memiliki konsekuensi simbolik karena dapat memengaruhi standar komunikasi politik dan kualitas perdebatan di tengah masyarakat.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Jangan Remehkan Rakyat yang Diam Memendam Kemarahan

“Masalah utamanya bukan hanya kata kasar, tetapi efek simboliknya. Ucapan presiden menurunkan standar kualitas bahasa dan budaya debat di negara,” demikian pandangan Sutoyo dalam pernyataannya, Senin (21/9/2026)

Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan prinsip mafhum mukhalafah dalam ilmu ushul fiqh. Menurut Sutoyo, konsep tersebut merupakan pemahaman terhadap makna kebalikan dari lafaz yang disebutkan dalam suatu teks.

Dari kerangka itu, Sutoyo kemudian membangun kritiknya terhadap pernyataan Presiden Prabowo, dengan menyebut bahwa ungkapan “saking pintarnya jadi goblok” dapat dipahami secara terbalik sebagai kritik terhadap pihak yang merasa paling pintar.

Namun, pernyataan mengenai kondisi atau diagnosis kesehatan mental seseorang tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan ucapan atau perilaku politik di ruang publik. Penilaian semacam itu memerlukan pemeriksaan profesional dan bukti klinis yang memadai.

Yang dapat diverifikasi adalah bahwa Prabowo pada 18 September 2026 memang menyampaikan pernyataan mengenai sejumlah pakar tersebut. Dalam konteks pidatonya, Prabowo mengaitkan kritik para pakar dengan tudingan fitnah dan menekankan pentingnya kejujuran intelektual.

BACA JUGA :  Syahganda Bongkar Cerita Purbaya: Pernah Minta Ganti Dua Dirjen, Prabowo Justru Bilang 'Jangan Dulu'

Pernyataan dan penilaian dalam berita ini merupakan pandangan Koordinator Kajian Politik Merah Putih Sutoyo Abadi yang disampaikan pada 21 September 2026. Media ini membuka ruang bagi pihak-pihak yang disebut maupun dikritik dalam pernyataan tersebut, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan pihak terkait lainnya, untuk memberikan klarifikasi atau tanggapan.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Jangan Remehkan Rakyat yang Diam Memendam Kemarahan
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img