spot_img
spot_img
Minggu, Agustus 16, 2026
BerandaHeadlineMenabung Air Saat Hujan, Menyambung Hidup Saat Kemarau Panjang

Menabung Air Saat Hujan, Menyambung Hidup Saat Kemarau Panjang

spot_img

JAKARTA, Indoviewnews.com – Sebagian besar wilayah di Indonesia tengah menghadapi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air akibat dampak El-Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan dampak terbesar terjadi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.

Bahkan curah hujan di wilayah tersebut akan berada di bawah normal sehingga ketersediaan air berkurang dan produksi pertanian terancam. Tidak hanya itu, terdapat potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan gangguan kesehatan masyarakat, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit lainnya.

Pakar Hidrologi UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., mengatakan kenaikan temperatur dan perubahan iklim yang terjadi sekarang ini membuat risiko banjir dan kekeringan semakin dirasakan di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Agus, penanganan kekeringan perlu dilakukan secara preventif, terutama pada saat musim hujan. Ia menyebut kekeringan sebagai dampak dari kelalaian dalam melakukan sesuatu pada musim hujan sehingga ketika musim kemarau tiba masyarakat kebingungan menghadapi keterbatasan air.

“Preventif pada saat musim hujan. Kekeringan itu adalah dampak daripada kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Sehingga pada musim kering bingung,” ujarnya dalam workshop Sekolah Wartawan yang bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan”, Jumat (14/8/2026), di Ruang Fortakgama, Gedung Pusat UGM.

Agus menyatakan bahwa El Nino sebenarnya telah terjadi secara berkala, hampir setiap lima tahun sekali. Namun, perubahan iklim membuat dampaknya semakin dirasakan. Di sisi lain, menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut masih cenderung datar karena masih banyak yang menggunakan cara-cara biasa. Karena itu, Agus menekankan pentingnya memanen air hujan ketika musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau.

Menurutnya, kualitas air hujan sangat baik dan dapat melebihi kualitas air permukaan lainnya. Menurutnya, air hujan secara legal dapat diolah menjadi air minum setelah adanya aturan terkait keamanan dan mutu air baku serta air minum yang berasal dari air hujan. “Semua orang Indonesia itu memahami tentang bagaimana manajemen hujan, bagaimana hujan kualitasnya sangat baik. Kualitasnya itu melebihi kualitas air sungai, melebihi kualitas air permukaan mana pun,” katanya.

Agus juga menjelaskan bahwa penelitian mengenai teknologi pemanenan air hujan menunjukkan adanya penerimaan dari masyarakat. Ia membandingkan kualitas air hujan dengan air sumur dan menyebut air hujan memiliki kualitas yang lebih baik dalam beberapa parameter. “Masyarakat perlu mulai memanfaatkan air hujan secara maksimal,” ujarnya.

Ia mencontohkan sumur-sumur di perkotaan yang sudah tidak digunakan dapat dimanfaatkan sebagai tempat memasukkan air hujan setelah melalui penyaringan. Menurut Agus, air hujan dapat membantu memperbaiki kualitas air di dalam sumur sekaligus menjaga cadangan air tanah. “Kalau itu menjadi gerakan perkotaan untuk memanen air yang masuk ke sumur, itu sudah bisa menyelesaikan masalah penurunan muka air tanah. Di samping juga mengurangi banjirnya,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan air hujan bukanlah praktik tradisional yang tertinggal. Agus mencontohkan Australia yang telah banyak memanfaatkan air hujan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Ia juga menyebut berbagai praktik pemanenan air hujan yang telah dilakukan di Indonesia, salah satunya di daerah kering Bojonegoro.

Selain skala rumah tangga, Agus menyoroti perlunya industri, hotel, dan kantor ikut menampung air hujan. Menurutnya, penggunaan air tanah oleh sektor-sektor tersebut turut menyumbang penurunan muka air tanah. Karena itu, air hujan perlu dimanfaatkan sekaligus sebagai upaya mengisi kembali cadangan air tanah.

Agus juga memberikan contoh pemanfaatan air hujan untuk pertanian dan perikanan di Bantul. Menurutnya, air hujan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air, tetapi juga untuk memelihara ikan. Ia menyebut adanya pengalaman masyarakat yang memelihara ikan mujair dan lele dengan memanfaatkan air hujan.

Ia menjelaskan bahwa air hujan memiliki molekul yang lebih kecil karena belum terkontaminasi atau tertempel mineral lain. Menurutnya, kondisi tersebut membuat air hujan lebih cepat masuk dalam metabolisme tumbuhan maupun hewan yang meminumnya. “Kalau kita minum air hujan itu lebih cepat segar daripada minum air biasa,” ujar Agus.

Dalam konteks pertanian, Agus juga menyoroti keberadaan kolam tampung air hujan yang menurutnya merupakan tradisi yang mulai hilang. Ia mendorong agar kolam-kolam pertanian kembali dikembangkan sebagai tempat menyimpan air pada musim hujan. Menurutnya, konsep drainase yang hanya membuang air hujan secepat mungkin perlu diubah.

Agus menyebut program embung desa sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan. Menurutnya, setiap desa dapat memiliki embung, tidak harus berukuran besar, tetapi dapat berupa kolam-kolam kecil yang berfungsi menampung air hujan agar tidak langsung mengalir keluar desa. “Program yang harus dilakukan adalah embung desa, mengupayakan supaya air hujan itu tidak keluar secepat-cepatnya. Kalau banjir memang harus keluar, tapi kalau tidak, harus mengisi desa ini. Nanti kekeringan tidak terjadi,” jelasnya.

Selain embung, ia menjelaskan teknologi injeksi air hujan ke dalam tanah. Air hujan dapat dialirkan dari talang melalui pipa atau lubang bor untuk mengisi kembali air tanah. Agus juga menyebut sistem resapan air hujan ke sumur dengan terlebih dahulu menyaring air yang masuk. Ia mencontohkan penggunaan bak tampung di setiap rumah tangga untuk menampung air hujan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Kelebihan air kemudian dapat dimasukkan kembali ke sumur melalui sistem injeksi.

Sementara ketika musim kemarau tiba, Agus mendorong masyarakat untuk aktif mencari sumber air yang masih tersedia. Ia menyebut sumber air dapat ditemukan di sepanjang aliran sungai, mata air, sungai bawah tanah, daerah sekitar danau, rawa, saluran irigasi, hingga sumur-sumur tua yang sudah tidak digunakan. Menurutnya, masyarakat dapat membuat sumuran di sekitar sungai untuk mendapatkan air yang masih berada di bawah permukaan. Mata air juga perlu dicari, ditandai, dan dirawat.

Menurut Agus, upaya menghadapi kekeringan merupakan kewajiban bersama dan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah. Masyarakat perlu melakukan berbagai langkah secara mandiri, mulai dari memperbaiki alat pemanen hujan, merawat sumur dan kolam, hingga mencari sumber air yang masih tersedia. “Orang harus berpikir hujan sama kemarau itu jadi satu, kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah pada musim kemarau, pada musim hujannya harus banyak menampung air,” pungkas Agus.
(UGM/Hanifah/Gusti Grehenson).

spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img