spot_img
spot_img
Senin, Oktober 5, 2026
BerandaOpiniDARI KREDIT MENGANGGUR MENUJU PABRIK PROJECT NASIONAL

DARI KREDIT MENGANGGUR MENUJU PABRIK PROJECT NASIONAL

spot_img

DARI KREDIT MENGANGGUR MENUJU PABRIK PROJECT NASIONAL

Mengubah Potensi Indonesia Menjadi Proyek Produktif

Oleh: Joko Kundaryo
Forum Dialog Peradaban (FDP)

Ada sebuah pertanyaan penting yang perlu kita ajukan ketika melihat kondisi pembiayaan ekonomi Indonesia hari ini:

Jika fasilitas pembiayaan tersedia dalam jumlah sangat besar, tetapi belum seluruhnya ditarik oleh dunia usaha, lalu apa yang sebenarnya kurang dari Indonesia?

Barangkali jawabannya bukan semata-mata uang.

Yang mungkin kurang adalah mesin untuk melahirkan proyek-proyek produktif yang layak dibiayai.

Rp2.490 Triliun Kredit Belum Ditarik

Persoalan ini bukan sekadar asumsi.

Bank Indonesia mencatat fasilitas kredit yang telah tersedia tetapi belum ditarik debitur (undisbursed loan) mencapai Rp2.490 triliun hingga Juni 2026, atau sekitar 21,52 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Angka tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 22 Juli 2026.

Perry mengatakan besarnya fasilitas kredit yang belum digunakan tersebut merupakan salah satu sumber potensi pertumbuhan kredit dan perlu terus didorong realisasinya untuk mendukung pembiayaan ekonomi. Pernyataan tersebut diberitakan antara lain oleh IDXChannel pada 22 Juli 2026.

Media lain juga memberitakan data yang sama. Kontan, 22 Juli 2026, melaporkan bahwa undisbursed loan per Juni 2026 mencapai Rp2.490 triliun atau 21,52 persen dari total plafon kredit.

Angkanya bahkan masih tinggi pada bulan berikutnya.

Bank Indonesia mencatat undisbursed loan mencapai sekitar Rp2.548 triliun pada Juli 2026, atau sekitar 21,8 persen dari total plafon kredit perbankan. Kontan melaporkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan tantangan intermediasi perbankan tidak semata-mata berasal dari sisi likuiditas, tetapi juga dari sisi permintaan kredit dan kehati-hatian dunia usaha.

Namun istilah “kredit menganggur” perlu digunakan secara hati-hati.

Secara teknis, yang dimaksud adalah undisbursed loan: fasilitas kredit yang sudah tersedia atau telah disepakati tetapi belum seluruhnya ditarik debitur. Jadi, ini bukan berarti Rp2.490 triliun uang tunai sedang mengendap begitu saja di dalam rekening bank.

Justru di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Ada kapasitas pembiayaan. Tetapi belum seluruh kapasitas tersebut berubah menjadi aktivitas ekonomi.

Pertanyaannya kemudian:

Bagaimana membuat pembiayaan bertemu dengan proyek produktif?

Di sinilah gagasan Pabrik Project Nasional menjadi relevan.

—

Indonesia Tidak Kekurangan Potensi

Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar.

Kita memiliki jumlah penduduk yang besar, pasar domestik yang luas, perguruan tinggi, teknologi, pengusaha, koperasi, pesantren, pemerintah daerah, kawasan industri, sumber daya maritim, lahan pertanian, kawasan wisata, energi terbarukan dan jaringan perbankan.

Potensinya luar biasa.

Namun berbagai potensi tersebut sering berjalan sendiri-sendiri.

Perguruan tinggi menghasilkan penelitian.

Pemerintah menghasilkan program.

Pengusaha mencari peluang bisnis.

Perbankan memiliki sumber pembiayaan.

Masyarakat memiliki kebutuhan sekaligus sumber daya ekonomi.

Pemerintah daerah memiliki potensi wilayah.

Investor memiliki modal.

Tetapi semuanya belum selalu bertemu dalam satu proses yang sistematis sehingga berubah menjadi:

proyek yang layak → proyek yang bankable → proyek yang dapat dieksekusi.

Di sinilah persoalan sesungguhnya.

Kita tidak hanya membutuhkan money supply.

Kita membutuhkan project supply.

—

Dari Money Driven Menuju Project Driven

Selama ini pembangunan sering dimulai dari pertanyaan:

“Berapa anggaran yang tersedia?”

Paradigma tersebut perlu dilengkapi dengan pertanyaan baru:

“Proyek produktif apa yang dapat kita bangun?”

Jika proyeknya bagus, sumber pembiayaan dapat dicari dari berbagai sumber:

– APBN;
– APBD;
– perbankan;
– investor domestik;
– investor asing;
– dana korporasi;
– koperasi;
– blended finance;
– pembiayaan syariah;
– maupun instrumen pembiayaan lainnya.

Dengan demikian, pembangunan tidak hanya budget driven, tetapi semakin project driven.

Negara tidak sekadar menyediakan uang.

Negara perlu membangun mesin yang mampu mengubah potensi menjadi proyek dan proyek menjadi investasi produktif.

BACA JUGA :  KEMARAHAN YANG DIWARISKAN

—

Di Sinilah Pabrik Project Dibutuhkan

Istilah Pabrik Project mungkin terdengar tidak lazim.

Tetapi justru di situlah gagasannya.

Pabrik Project bukan pabrik yang menghasilkan barang.

Ia adalah mesin kelembagaan dan digital yang mengolah gagasan menjadi proyek produktif.

Bayangkan sebuah sistem nasional yang menerima berbagai potensi:

– lahan terlantar;
– kawasan pascatambang;
– pertanian;
– perikanan;
– hasil riset perguruan tinggi;
– teknologi baru;
– industri;
– pariwisata;
– energi terbarukan;
– ekonomi maritim;
– hilirisasi komoditas;
– kawasan industri;
– kebutuhan pembangunan daerah;
– hingga berbagai persoalan sosial yang dapat diubah menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Semua potensi tersebut masuk ke dalam sebuah proses:

IDE

↓

SCREENING

↓

STUDI KELAYAKAN

↓

MODEL BISNIS

↓

OFFTAKER

↓

INVESTOR

↓

PEMBIAYAAN

↓

BANKABLE PROJECT

↓

PROYEK SIAP EKSEKUSI

Inilah yang dapat kita sebut sebagai:

NATIONAL PROJECT PIPELINE

Indonesia selama ini memiliki banyak pipeline anggaran.

Sudah saatnya Indonesia juga memiliki pipeline proyek produktif nasional.

—

Siapa yang Mengorkestrasi?

Pertanyaan berikutnya tentu:

Siapa yang mengendalikan sistem tersebut?

Menurut saya, gagasan ini tidak harus melahirkan kementerian baru.

Justru jangan sampai Pabrik Project berubah menjadi birokrasi baru yang menambah panjang rantai administrasi.

Yang dibutuhkan adalah Pokja Pabrik Project Nasional yang berfungsi sebagai orkestrator.

Dalam konteks pemerintahan saat ini, salah satu opsi yang layak didiskusikan adalah menempatkan fungsi orkestrasi pada Kementerian Sekretariat Negara, sehingga koordinasinya dapat menjangkau berbagai kementerian/lembaga dan tidak terjebak pada kepentingan sektoral satu kementerian.

Tetapi Pokja ini harus berbeda dari rapat koordinasi pemerintah pada umumnya.

Ia harus memiliki target yang terukur:

berapa proyek lahir, berapa investasi masuk, berapa lapangan kerja tercipta, dan berapa nilai ekonomi yang dihasilkan.

—

Penta Helix Harus Menjadi Mesin Kerja

Pokja Pabrik Project Nasional dapat dibangun dengan pendekatan Penta Helix.

1. Government

Pemerintah membawa arah pembangunan, regulasi, data, kebijakan, aset dan fasilitas negara.

2. Academia

Perguruan tinggi membawa ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi dan sumber daya manusia.

Untuk unsur akademia, gagasannya sederhana:

yang duduk dalam forum strategis bukan sekadar staf universitas, tetapi para Rektor.

Sebab proyek nasional membutuhkan kepemimpinan dan kemampuan mengambil keputusan.

3. Business

Dunia usaha membawa modal, teknologi, pengalaman manajemen, jaringan pasar dan kemampuan menjadi offtaker.

4. Community

Masyarakat, koperasi, pesantren, kelompok tani, nelayan, UMKM dan komunitas lokal menjadi pelaku ekonomi sekaligus penerima manfaat.

5. Media

Media membangun komunikasi publik, transparansi, literasi dan mempertemukan gagasan dengan masyarakat luas.

Dengan demikian:

Penta Helix tidak boleh berhenti sebagai konsep akademis.

Penta Helix harus menjadi mesin kerja pembangunan.

—

Dari Café Penta Helix ke Pabrik Project

Forum Dialog Peradaban sebelumnya mendiskusikan gagasan “Café Penta Helix.”

Café Penta Helix bukan sekadar tempat minum kopi.

Ia merupakan metafora tentang ruang pertemuan antara pengetahuan, pemerintah, modal, teknologi dan kekuatan sosial.

Di sana seorang Rektor dapat bertemu pengusaha.

Pengusaha dapat bertemu pemerintah.

Peneliti dapat bertemu investor.

Koperasi dapat bertemu industri.

Masyarakat dapat bertemu pemilik teknologi.

Dari pertemuan tersebut lahir gagasan.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

Setelah gagasan lahir, siapa yang mengerjakannya?

Di sinilah Pabrik Project mengambil peran.

Jika:

Café Penta Helix adalah ruang bertemunya gagasan,

maka:

Pabrik Project adalah mesin yang mengolah gagasan menjadi proyek.

Keduanya bukan dua gagasan yang terpisah.

Keduanya merupakan satu rangkaian:

CAFÉ PENTA HELIX

mempertemukan kekuatan

↓

PROJECT FACTORY

mengolah gagasan

↓

BANKABLE PROJECT

menghasilkan proyek layak investasi

↓

INVESTASI

menggerakkan modal

↓

INDUSTRI & LAPANGAN KERJA

menghasilkan nilai ekonomi

Inilah ekosistem yang perlu kita bangun.

BACA JUGA :  PANCASILA SAKTI: JANGAN HANYA SAKTI DALAM HAFALAN

—

Mengapa Perbankan Tidak Bisa Bekerja Sendirian?

Kita sering mengatakan bahwa perbankan harus lebih agresif menyalurkan kredit.

Tetapi bank juga memiliki prinsip kehati-hatian.

Bank membutuhkan proyek yang memiliki:

– pasar yang jelas;
– model bisnis;
– proyeksi arus kas;
– kepastian hukum;
– pengelola yang kredibel;
– mitigasi risiko;
– sumber pembayaran yang jelas;
– serta struktur pembiayaan yang sehat.

Dengan kata lain:

bank membutuhkan proyek yang bankable.

Karena itu, jika kita ingin meningkatkan penyaluran kredit produktif, pekerjaan kita bukan hanya mendorong bank mengeluarkan kredit.

Kita juga harus:

MEMPRODUKSI PROYEK YANG LAYAK MENERIMA KREDIT.

Inilah salah satu alasan mengapa Pabrik Project menjadi penting.

—

OJK: Undisbursed Loan Bukan Fenomena yang Sepenuhnya Abnormal

Pandangan ini juga perlu dibuat berimbang.

Pada 26 Februari 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan fenomena undisbursed loan merupakan sesuatu yang lazim dalam siklus bisnis perbankan.

Menurutnya, debitur yang telah memperoleh fasilitas kredit biasanya memang memiliki rencana ekspansi dan dapat menarik kredit secara bertahap sesuai kebutuhan. Pernyataan tersebut diberitakan ANTARA pada 26 Februari 2026.

Artinya, kita tidak boleh menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa seluruh Rp2.490 triliun tersebut merupakan “uang yang sia-sia”.

Tidak demikian.

Tetapi angka tersebut tetap memberikan sebuah pesan penting:

terdapat ruang pembiayaan yang sangat besar yang belum sepenuhnya berubah menjadi aktivitas ekonomi.

Dan ruang itulah yang seharusnya kita pikirkan secara kreatif.

—

Bahkan OJK Mencatat Porsi Terbesar Ada pada Kredit Modal Kerja

Pada Mei 2026, OJK mencatat undisbursed loan sekitar Rp2.575 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa porsi terbesar berasal dari kredit modal kerja, sebesar 54,33 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam jawaban tertulis di Jakarta pada 23 Juli 2026 dan diberitakan oleh ANTARA pada 23 Juli 2026.

Fakta ini semakin menarik.

Karena apabila fasilitas kredit modal kerja yang telah tersedia dapat terserap ke dalam proyek-proyek produktif yang benar-benar layak, maka dampaknya bukan hanya kepada perbankan.

Dampaknya dapat masuk ke:

produksi → industri → perdagangan → lapangan kerja → pendapatan masyarakat → pertumbuhan ekonomi.

—

Indonesia Sesungguhnya Memiliki “Bahan Baku” yang Melimpah

Bahan baku Pabrik Project sebenarnya sudah tersedia di seluruh Indonesia.

Ada ribuan penelitian perguruan tinggi.

Ada berbagai inovasi teknologi.

Ada kawasan industri.

Ada desa-desa dengan potensi ekonomi.

Ada koperasi.

Ada pesantren.

Ada UMKM.

Ada kawasan pesisir.

Ada lahan pascatambang yang membutuhkan pemulihan.

Ada potensi energi.

Ada investor.

Ada perusahaan yang membutuhkan supply chain.

Ada pemerintah daerah yang memiliki potensi tetapi belum mampu mengubahnya menjadi proyek investasi.

Persoalannya adalah:

belum ada mesin nasional yang secara sistematis menghubungkan semuanya.

Maka yang diperlukan tidak selalu menciptakan sesuatu yang baru.

Kadang-kadang yang diperlukan adalah:

MENGHUBUNGKAN APA YANG SUDAH KITA MILIKI.

—

Pabrik Project Bukan Mesin Pemerintah

Ini harus menjadi prinsip dasar.

Pabrik Project tidak boleh mengambil alih fungsi kementerian.

Kementerian teknis tetap menjadi pemilik program dan kebijakan sektoral.

Perguruan tinggi tetap menjalankan pendidikan dan riset.

Perbankan tetap menjalankan fungsi intermediasi.

Pengusaha tetap menjalankan bisnis.

Pemerintah daerah tetap menjalankan kewenangannya.

Masyarakat tetap menjadi pelaku pembangunan.

Pabrik Project hanya melakukan satu pekerjaan besar:

menghubungkan semuanya menjadi proyek yang dapat dieksekusi.

Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan:

berapa banyak rapat yang dilakukan.

Bukan pula:

berapa banyak MoU yang ditandatangani.

Bukan berapa banyak seminar yang diselenggarakan.

Ukuran keberhasilannya harus sederhana:

Berapa proyek produktif yang lahir?

Berapa nilai investasi yang dihimpun?

Berapa lapangan kerja yang tercipta?

Berapa masyarakat yang masuk ke dalam rantai nilai ekonomi?

BACA JUGA :  MEMILIKI POWER TIDAK HARUS MEMILIKI JABATAN TINGGI : BELAJAR DARI SUFMI DASCO AHMAD DAN FILOSOFI POWER BEHIND THE THRONE

—

Jangan Sampai Menjadi “Pabrik Proposal”

Ada satu bahaya yang harus dihindari.

Indonesia sudah sangat banyak menghasilkan proposal.

Kita tidak membutuhkan Pabrik Proposal.

Kita membutuhkan Pabrik Project.

Setiap proposal harus melewati pintu yang sama:

Apakah ada kebutuhan nyata?

Apakah ada pasar?

Apakah teknologinya tersedia?

Apakah model bisnisnya masuk akal?

Siapa investornya?

Siapa offtakernya?

Siapa yang menjalankan?

Bagaimana struktur pembiayaannya?

Bagaimana mitigasi risikonya?

Apa dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab secara meyakinkan, barulah sebuah gagasan dapat naik kelas menjadi:

Bankable Project.

—

Tahap Awal: Pilot Project

Gagasan Pabrik Project Nasional tentu tidak boleh langsung dibangun dalam skala besar.

Ia harus diuji.

Misalnya dengan pilot project nasional yang melibatkan beberapa sektor:

– agroindustri;
– hilirisasi komoditas;
– energi terbarukan;
– kawasan pascatambang;
– perikanan;
– industri manufaktur;
– digitalisasi;
– pariwisata;
– koperasi;
– dan proyek ekonomi pesantren.

Setiap proyek diuji melalui project scoring.

Misalnya berdasarkan:

marketability

technical feasibility

financial feasibility

legal readiness

environmental sustainability

social impact

management capability

offtaker readiness

financing readiness

Dari ribuan ide, mungkin hanya sebagian yang lolos.

Tidak masalah.

Karena fungsi Pabrik Project memang bukan memperbanyak proposal.

Fungsinya adalah:

MENEMUKAN PROYEK TERBAIK.

—

Dari Kredit Menganggur Menuju Ekonomi Produktif

Pada akhirnya, persoalan undisbursed loan bukan semata-mata persoalan bank.

Ia merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar:

bagaimana mengubah potensi ekonomi menjadi proyek yang layak dibiayai.

Karena itu, kebijakan ekonomi tidak cukup hanya berbicara mengenai:

suku bunga,

likuiditas,

penyaluran kredit,

insentif,

atau stimulus.

Kita juga harus berbicara tentang:

PROJECT CREATION.

Bagaimana menciptakan ribuan proyek produktif baru di seluruh Indonesia?

Bagaimana menghubungkan proyek tersebut dengan perguruan tinggi?

Bagaimana mempertemukannya dengan investor?

Bagaimana menemukan offtaker?

Bagaimana memastikan kepastian regulasi?

Bagaimana membuatnya bankable?

Dan bagaimana memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat?

Itulah pekerjaan Pabrik Project.

—

Saatnya Indonesia Memproduksi Proyek

Indonesia tidak kekurangan ide.

Indonesia tidak kekurangan manusia pintar.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya.

Indonesia juga tidak kekurangan lembaga pembiayaan.

Yang perlu diperkuat adalah mesin penghubungnya.

Gagasan Pabrik Project Nasional mencoba menjawab persoalan tersebut.

Ia bukan solusi tunggal bagi seluruh persoalan ekonomi Indonesia.

Tetapi ia dapat menjadi sebuah arsitektur penghubung antara:

IDE

ILMU PENGETAHUAN

PEMERINTAH

DUNIA USAHA

MASYARAKAT

TEKNOLOGI

INVESTASI

dan

PEMBIAYAAN.

Dari sinilah gagasan Café Penta Helix dapat dikembangkan lebih jauh.

Bukan lagi sekadar tempat berdiskusi.

Tetapi menjadi titik awal sebuah proses:

Bertemu → Berpikir → Merancang → Menguji → Membiayai → Membangun.

Dan pada akhirnya, mungkin inilah cara sederhana untuk menjawab persoalan undisbursed loan yang jumlahnya mencapai ribuan triliun rupiah:

«Jangan hanya mencari uang untuk proyek.
Bangunlah mesin yang mampu menghasilkan proyek-proyek yang layak mendapatkan uang.»

Itulah gagasan Pabrik Project Nasional.

Joko Kundaryo
Mantan Kepala Dinas UMKM dan Koperasi DKI Jakarta
Alumni SMA 47 Jakarta
Forum Dialog Peradaban (FDP)


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  5 KELEMAHAN UU REFORMA AGRARIA YANG BARU DISAHKAN
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img