Kasus Gibran, Said Didu: Bola Sudah Diletakkan Di Titik Pinalti Tapi Gak Ada Yang Mau Menendang, Kenapa ?
INDOVIEWNEWS.COM — Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu menggunakan analogi pertandingan sepak bola untuk menggambarkan situasi politik setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara yang menyangkut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam rilisnya, 8 Oktober 2026, Said Didu menyebut bola seolah sudah berada di titik penalti, tetapi tidak ada pemain yang berani menendangnya.
“Bagaikan pelanggar di sepak bola, penjaga VAR (Prof Denny dkk) sudah menyampaikan ke wasit (MK) bahwa terjadi pelanggaran,” kata Said Didu.
Menurutnya, wasit dalam analogi tersebut bahkan telah memutuskan terjadi pelanggaran dan menjatuhkan hukuman penalti.
“Wasit sudah memutuskan bahwa betul terjadi pelanggaran dengan hukuman Pinalti. Bahkan wasit sudah meletakkan bola di titik pinalti. Penjaga gawang pun lagi cedera. Artinya jika bola ditendang sudah bisa asri Gol,” ujarnya.
Namun, Said Didu mempertanyakan tidak adanya pihak yang disebutnya berani mengambil kesempatan untuk menendang bola tersebut.
“Tapi pemain tidak ada yg berani menendang bola,” katanya.
Said Didu kemudian menyebut sejumlah partai politik sebagai “penendang” dalam analoginya.
Untuk PDI-Perjuangan, ia menyebut partai tersebut justru mengusulkan agar persoalan itu diteliti kembali melalui mekanisme lain.
“Penendang pertama PDI-Perjuangan. Mereka usulkan Pinalti tidak langsung. Meminta diteliti ulang pelanggaran tersebut lewat mekanisme lain. Aneh !!!” kata Said Didu.
Ia kemudian menyebut Gerindra sebagai “penendang kedua” yang menurutnya hanya menyatakan menghormati keputusan wasit.
“Penendang kedua Gerindra. Hanya mengumumkan bahwa menghormati keputusan wasit sambi melengos pergi,” ujarnya.
Untuk Partai Demokrat, Said Didu menilai partai tersebut memilih bersikap aman. Sementara PKS disebutnya mengalami “cedera massal”.
“Penendang ketiga, Partai Demokrat. Partai ini selalu mau main aman tanpa resiko. Mereka masih di ruang ganti menunggu sorakan penonton,” katanya.
“Penendang kelima, PKS. Sepertinya lagi cedera massal,” lanjut Said Didu.
Ia juga menggunakan analogi serupa terhadap Partai Golkar, PKB, PAN, dan NasDem, dengan berbagai sindiran yang dikaitkan dengan posisi masing-masing partai.
“Penendang keenam, Partai Golkar. Semua pemainnya, matanya masih ditutup perban Solo oleh Ketua Umum mereka,” ujar Said Didu.
“Penendang ketujuh, PKB. Lagi diruang wasit mengintip apakah sudah ada ransel,” sambungnya.
Sementara PAN, menurut Said Didu, disebut sedang berada di luar lapangan menunggu sesuatu.
“Penendang kedelapan, PAN. Lagi di luar lapangan menunggu datangnya mobil box,” katanya.
Sedangkan terhadap NasDem, ia mengatakan, “Penendang kesembilan, Partai Nasdem. Biasanya ada pemain nakal yang lepas kontrol.”
Di bagian akhir pernyataannya, Said Didu menyerukan keterlibatan rakyat untuk menentukan arah persoalan yang dianalogikannya sebagai bola di titik penalti.
“Atas kondisi tersebut, maka sepertinya, Indonesia hanya bisa selamat, jika rakyat bersatu mendobrak stadion untuk menendang bola yg sudah ada di titik pinalti – Indonesia bisa menang (Selamat),” tegasnya.
Media membuka ruang klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari perspektif pihak-pihak yang disebut atau terkait dengan pernyataan tersebut, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






