Pengamat: Jokowi dan Gibran Kini Jadi Bidak Catur Kekuasaan Prabowo, Geng Solo vs Istana Merdeka Utara
INDOVIEWNEWS.COM– Pengamat Politik dan Hukum Muslim Arbi menilai posisi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kini telah menjadi bidak catur kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Muslim Arbi dalam keterangan analisis politiknya, Rabu (8/10/2026). Menurutnya, situasi politik terkini memperlihatkan pertarungan antara Geng Solo versus Istana Merdeka Utara.
“Siapa bilang Prabowo masih di bawah bayang-bayang Jokowi? Salah besar. Jika selama ini publik anggap Prabowo masih di remote oleh Jokowi,” ujar Muslim Arbi.
Ia menilai anggapan bahwa Prabowo masih setia dan berada di bawah kendali Jokowi keliru. Teriakan ‘Hidup Jokowi’ yang selama ini dilontarkan Prabowo, menurutnya, bisa jadi hanya taktik politik.
“Bisa jadi selama ini teriakan lantang Hidup Jokowi oleh Prabowo yang bikin banyak kalangan marah dan benci pada Jokowi juga marah pada Prabowo. Bisa jadi itu cuman trik doang,” katanya.
Muslim Arbi menyebut langkah-langkah Prabowo selama dua tahun kekuasaan, termasuk memuji Jokowi sebagai guru politiknya, kini terbantahkan dengan sejumlah manuver reformasi kekuasaan. Salah satunya pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Pratikno.
“Publik dan sejumlah tokoh berteriak soal pergantian Kapolri dan mereshuffle kabinet serta membersihkan orang Jokowi – The Jokowi man mulai terlihat setelah Sigit dan Pratikno dicopot,” ungkapnya.
Ia menilai pengangkatan Kapolri baru dan pembersihan di tubuh kepolisian oleh Jenderal Suyudi mengindikasikan upaya mengembalikan citra Polri dengan tagline Polisi Bersama Rakyat.
“Dugaan kuat selama ini polisi di era Sigit lebih cenderung melayani kekuasaan ketimbang melayani Rakyat. Tagline Polisi Bersama Rakyat dapat dimaknai polisi harus sudah kembali ke jati dirinya bersama Rakyat dan bukan untuk pelayan kekuasaan,” jelasnya.
Muslim Arbi juga menyinggung istilah Parcok (Partai Cokelat) yang muncul selama 10 tahun kekuasaan Jokowi, serta penanganan kasus dugaan ijazah palsu UGM Jokowi yang dinilai menjadi catatan publik.
“Terlihat Jokowi sangat terlindungi karena orang-orang yang mempersoalkan Ijazah UGM nya di penjara seperti Bambang Tri dan Gus Nur. Juga Roy Suryo dan Dr Tifa harus berurusan dengan pengadilan,” ujarnya.
Menurutnya, sinyal keretakan semakin terlihat pada HUT TNI 5 Oktober lalu, saat Prabowo tidak lagi bersalaman dengan Jokowi dan tidak menyebut gelar Insinyur, serta posisi duduk yang berbeda saat menonton bola di Senayan dibanding Upacara HUT RI 17 Agustus.
Ia menambahkan, bertandanganya Jokowi ke Kertanegara saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan gugatan ijazah Gibran menjadi bagian dari papan catur politik. MK disebut memutuskan tidak memakzulkan Gibran namun membuktikan Gibran tidak memiliki ijazah setingkat SMA saat Pilpres 2024, dan putusan akan dibawa ke DPR-MPR untuk proses pemakzulan.
“Dan semua rangkaian peristiwa di atas memperlihatkan Joko Widodo beserta puteranya Gibran Rakabuming Raka menjadi Bidak Politik Prabowo untuk lakukan konsolidasi kekuatan untuk membenahi carut-marut negeri ini yang dikelola secara salah oleh rezim dinasti Jokowi selama ini,” pungkas Muslim Arbi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Jokowi maupun Istana terkait analisis tersebut.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







