Wajah Masa Depan Sepak Bola (Olah Raga)
Defiyan Cori
Ekonom Konstitusi
Wajah pemain Thailand mirip wajah pemain Indonesia, sementara wajah pemain Indonesia sendiri tidak selalu mencerminkan wajah Indonesia. Untung ada Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri yang menyelamatkan kita dari kekalahan semalam dalam FIFA ASEAN Cup 2026! Dengan susah payah juga, tak mudah walau mayoritas pemain adalah NATURALISASI.
Tapi persoalannya bukan soal wajah.
Persoalannya adalah: sebenarnya kita sedang membangun sepak bola Indonesia dengan cara apa?
Kalau ingin masuk Piala Dunia, cobalah belajar dari Jepang dan Korea Selatan. Bahkan di Asia Tenggara, Thailand dan Vietnam menunjukkan bahwa membangun tim nasional tidak harus dengan membanjiri skuad melalui naturalisasi.
Sepak bola itu tidak berbeda dengan membangun SDM.
Ada pembinaan usia dini, ada jenjang, ada kompetisi, ada kaderisasi, ada proses, dan yang paling penting: konsistensi.
Memangnya pemain naturalisasi otomatis hebat?
Kalau naturalisasi adalah jalan menuju kehebatan, mengapa dengan begitu banyak pemain naturalisasi kita juga tidak otomatis menang mudah?
Inilah yang sering luput dari pembicaraan.
Naturalisasi bisa menjadi pelengkap. Tetapi kalau dijadikan tulang punggung, lalu untuk apa kita membangun pembinaan?
Thailand dan Vietnam cukup menambah dua atau tiga pemain naturalisasi ketika diperlukan. Jepang dan Korea Selatan lebih dahulu membangun sistem pembinaan yang panjang dan berjenjang.
Lalu kita?
Apakah kita sedang membangun sistem sepak bola nasional atau sedang mencari jalan pintas menuju popularitas?
Karena ingin juara itu sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk dibayangkan. Yang sulit adalah membangun proses yang membuat juara menjadi konsekuensi, bukan kebetulan.
Kita pernah mengenal gagasan pembinaan SDM yang berjenjang dan terarah pada era Presiden alm. Soeharto. Ada proses, ada konsistensi, dan ada orientasi jangka panjang.
Sebab olahraga, seperti halnya pembangunan bangsa, tunduk pada hukum yang sederhana:
Apa yang dibina dengan serius akan menghasilkan. Apa yang dikerjakan secara pragmatis akan menghasilkan sesuatu yang pragmatis pula.
Di sinilah persoalannya kemudian menjadi lebih besar daripada sepak bola.
Ketika segala sesuatu diukur dengan popularitas, uang, dan hasil instan, nasionalisme pun bisa menjadi abu-abu dan kabur.
Terlalu banyak membaca buku orang asing, termasuk buku para penjajah kapitalisme, tanpa menyaringnya dengan kepentingan nasional, bisa membuat kita lupa membedakan kepentingan bangsa dengan kepentingan pasar.
Pernah dikatakan LBP: uang tidak kenal nasionalisme.
Pertanyaannya: apakah sepak bola nasional juga akan kita perlakukan seperti itu?
Kalau iya, lalu apa yang sebenarnya sedang kita bangun?
Sebuah tim nasional yang sekadar menang hari ini?
Atau sebuah sistem pembinaan yang mampu melahirkan generasi pemain Indonesia untuk puluhan tahun ke depan?
Sebab tim nasional seharusnya bukan tempat untuk memamerkan hasil belanja pemain.
Tim nasional adalah etalase hasil pembinaan sebuah bangsa.
Naturalisasi boleh menjadi bagian dari strategi. Tetapi jangan sampai strategi berubah menjadi ketergantungan, dan ketergantungan kemudian dianggap sebagai prestasi.
Jepang membangun.
Korea Selatan membangun.
Thailand membangun.
Vietnam membangun.
Mereka tidak sedang mencari keajaiban. Mereka sedang membangun manusia.
Dan ketika manusia dibangun dengan benar, prestasi akhirnya datang sebagai konsekuensi.
Jadi, jangan hanya bertanya:
“Kapan Indonesia juara?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kapan Indonesia serius membangun sistem yang melahirkan juara?” _Tentu, tak hanya berlaku pada cabang sepak bola saja. Hal yang sama telah ditunjukkan oleh cabang olah raga (cabor) lain, bulu tangkis, panahan yang juara dari pembinaan_
Karena kalau yang kita bangun hanya kemenangan sesaat, yang kita dapat mungkin hanya kemenangan sesaat.
Tetapi kalau yang kita bangun adalah manusia Indonesia, sistem Indonesia, dan pembinaan Indonesia, maka yang kita pertaruhkan bukan sekadar satu pertandingan.
Kita sedang membangun masa depan Indonesia.
Dan pada akhirnya, yang kita inginkan bukan sekadar sebelas orang yang menang.
Yang menyajikan juara untuk Indonesia, bukan menjadikan juara dengan cara cepat saji (instant).
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







