Ngopi Sewarung
Panggung Kebodohan
Tugas negara bukan sebatas membuat regulasi, menata administrasi, atau menyusun pasal-pasal hukum. Lebih dari itu, tugas terpenting negara adalah membangun, menegakkan, dan menjaga standar nilai sebagai fondasi pembangunan hari ini dan masa depan.
Standar nilai itu mencakup kebenaran, etika, logika, integritas, dan kepatutan. Semuanya harus terus diperkuat agar kehidupan berbangsa dan bernegara tidak sekadar berjalan berdasarkan aturan, tetapi juga berpijak pada akal sehat, moralitas, dan tanggung jawab.
Jika ingin menegakkan demokrasi, tugas negara bukan sekadar membuka ruang kebebasan. Demokrasi juga harus menjadi arena adu kualitas logika, kekuatan fakta, kejernihan gagasan, dan keluhuran etika. Sebab, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kebisingan, bukan kemajuan.
Jika ingin memajukan pendidikan, tugas negara bukan semata membangun gedung, memperluas sarana, atau mengubah sistem administrasi. Yang jauh lebih mendasar adalah meningkatkan kualitas guru, memperbaiki kurikulum, dan membangun karakter serta daya pikir generasi masa depan.
Begitu pula dalam politik. Membangun iklim politik yang sehat bukan sekadar membesarkan partai, memperdebatkan angka ambang batas, atau menghitung kekuatan koalisi. Yang lebih penting adalah memperkuat sistem seleksi kader agar politik diisi oleh orang-orang berintegritas, berkapasitas, dan memiliki visi kebangsaan.
Begitu seterusnya. Di setiap bidang kehidupan, negara harus hadir bukan hanya sebagai pembuat aturan, melainkan juga sebagai penjaga standar nilai kecerdasan dan etik.
Sayangnya, belakangan ini negara justru terkesan abai terhadap tugas mendasar tersebut. Ruang publik semakin leluasa dikuasai oleh aktor-aktor yang menyebarkan hoaks, memelihara kebencian, dan mempertontonkan kedangkalan berpikir. Mereka menguasai panggung media, hukum, pendidikan, hingga politik dengan berlindung di balik jargon demokrasi dan berbagai dalih pembenaran.
Sementara itu, negara seolah kehilangan untuk menegakkan standar kepatutan dan kecerdasan. .
Lihat saja polemik berkepanjangan seputar ijazah dan berbagai kontroversi yang menyeret para pemimpin nasional. Perbedaan pendapat dan upaya mencari kebenaran tentu merupakan bagian dari demokrasi. Namun, ketika ruang publik menjadi panggung yang mempertontonkan kebodohan, terus dipenuhi polemik tanpa ujung, sementara kualitas argumentasi, disiplin fakta, dan etika kerap terabaikan, kita patut bertanya: ke mana arah kehidupan berbangsa ini dibawa?
Apakah negara tidak menyadari bahwa kehancuran sebuah bangsa sering kali bermula bukan dari kekurangan aturan, melainkan dari merosotnya standar nilai? Ketika kebohongan dibiarkan, kebodohan diberi panggung, dan etika disingkirkan, institusi sebesar apa pun dapat kehilangan wibawa dan kepercayaan rakyat.
Lalu, apakah negara benar-benar tidak berdaya? Apakah kehilangan keberanian untuk bertindak? Atau justru para elite negara yang sedang bermain di belakang panggung kebodohan?
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






