Ketika Kejujuran Menjadi Penghalang: Mengapa Orang Bersih Tersisih, Yang Bermasalah Bertahan
Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)
Ada satu fenomena yang kian terasa di ruang publik, begitu nyata namun jarang diucapkan secara terbuka: semakin jujur, profesional, dan berintegritas seseorang, semakin sulit baginya menduduki posisi penting. Sebaliknya, pejabat yang namanya tergelincir berulang kali dalam berbagai kasus—dengan bukti yang tak sedikit—justru tetap kokoh di kursinya, bahkan makin dipercaya oleh tangan yang paling berkuasa.
Bukan karena rakyat tidak tahu. Bukan pula karena bukti tak ada. Namun karena di tingkat tertinggi, ukuran “layak menjabat” telah bergeser: bukan dari apa yang seseorang kerjakan untuk rakyat, melainkan seberapa patuh ia kepada pemegang kekuasaan tertinggi.
Di Atas Kebenaran: Kesetiaan yang Menjadi Mata Uang
Secara psikologis, akar masalahnya bermula dari apa yang disebut bias konfirmasi. Pimpinan cenderung memeluk informasi yang sesuai dengan kesan awalnya, dan menutup mata terhadap fakta yang bertentangan. Bagi lingkaran kekuasaan, seseorang yang sudah dianggap “milik kita” seakan otomatis kebal dari tuduhan. Bukti kesalahan tidak lagi diproses secara adil, melainkan dianggap fitnah, permainan politik, atau sekadar keberatan pihak luar.
Di sinilah klientelisme berkuasa: penempatan dan pertahanan seseorang bukan didasarkan pada rekam jejak yang bersih, melainkan kedekatan pribadi dan kepatuhan mutlak. Yang dipertanyakan bukan: “Apakah ia jujur dan mampu?” melainkan: “Apakah ia setia kepada saya? Apakah ia akan menuruti kehendak saya tanpa banyak tanya?”
Akibatnya, muncul apa yang disebut patronase—hubungan pelindung dan yang dilindungi. Pejabat yang bermasalah bertahan bukan karena ia bersih, melainkan karena ia dianggap bagian dari jaringan kekuasaan. Menjatuhkannya berarti melemahkan lingkaran pelindungnya sendiri. Maka kesalahan dimaafkan, rekam jejak diabaikan, dan kepercayaan terus diberikan meski bukti menumpuk.
Mengapa Orang Bersih Justru Tersisih?
Ada alasan yang pahit namun nyata: orang yang jujur dan idealis sering kali tidak bisa dikompromikan.
Pejabat yang memegang teguh prinsip akan berkata “tidak” ketika arah yang diambil salah. Ia akan menyampaikan kenyataan pahit, bukan manis yang dibohongi. Ia tidak punya utang budi yang harus dibayar dengan kepatuhan buta. Ia berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada belas kasihan siapapun.
Bagi kekuasaan yang ingin segala sesuatu berjalan sesuai kehendak pribadi, kemandirian semacam ini adalah ancaman. Orang jujur sulit diatur. Ia tidak bisa disuruh menutup mata, tidak bisa diminta membelokkan kebijakan demi kepentingan kelompok, tidak bisa dibisikkan hal-hal yang tidak pantas.
Sementara itu, pejabat yang sudah tergelincir justru lebih mudah dikendalikan. Karena punya kelemahan, ia akan patuh demi menjaga posisinya. Ia akan menyetujui apa saja, membungkam keraguan, dan membiarkan kebenaran terpendam. Kepatuhannya bukan lahir dari keyakinan, melainkan dari ketakutan. Dan itulah yang justru dihargai: ketaatan tanpa syarat di atas kebenaran yang teguh.
Dunia yang Dibangunkan di Sekitar Pimpinan
Fenomena ini diperparah oleh sindrom istana tertutup. Lingkaran dalam kekuasaan menyaring segala kabar yang masuk. Laporan buruk diperlunak, tuduhan direkayasa menjadi serangan pihak lawan, dan kritik dibungkam sebelum sampai ke telinga pimpinan. Akhirnya, yang sampai bukan kenyataan, melainkan versi kenyataan yang diinginkan untuk didengar.
Di sini berlaku standar ganda: satu ukuran untuk orang dalam lingkaran, ukuran lain untuk rakyat. Kesalahan orang dekat dimaafkan dengan alasan: “Ia bekerja keras,” “Itu hal biasa,” atau “Siapa yang tidak pernah salah?” Padahal jika yang sama dilakukan oleh orang biasa, ia sudah dijatuhkan, diadili, dan dihukum dengan keras.
Akibat Terjauh: Ketika Rakyat Kehilangan Pegangan
Dampak paling mematikan bukanlah kerugian materi yang hilang, melainkan runtuhnya kepercayaan bahwa kebaikan itu dihargai. Ketika rakyat melihat orang jujur tersingkir dan orang bermasalah justru naik, timbul apa yang disebut ketidakberdayaan yang dipelajari — kesimpulan pahit bahwa apa pun yang dilakukan, kejujuran tidak akan pernah menang.
Anak-anak muda mulai berpikir: untuk maju, tidak perlu jujur, cukup cari pelindung. Pejabat baru belajar: yang dijaga bukan kebenaran, melainkan kedekatan dengan kekuasaan. Dan perlahan-lahan, moralitas publik runtuh — bukan karena rakyat buruk, melainkan karena contoh dari atas tidak menghargai kebaikan.
Penutup: Pilihan yang Menentukan Masa Depan
Negara tidak dibangun di atas kesetiaan kepada seseorang, melainkan kepada kebenaran. Jika yang dipertahankan adalah yang patuh, bukan yang benar; jika yang diusir adalah yang berani berkata jujur, bukan yang berani berbuat salah — maka yang runtuh bukan sekadar pemerintahan, melainkan kepercayaan bahwa masih ada tempat bagi keadilan di negeri ini.
Saatnya kita menyadari: seseorang yang dipertahankan meski terbukti bermasalah bukanlah “orang kepercayaan” yang hebat. Ia adalah tanda bahwa sistem telah memilih kekuasaan di atas kebenaran. Dan seseorang yang tersisih karena kejujurannya bukanlah orang yang gagal — ia adalah bukti bahwa di tengah kegelapan, masih ada yang berani berdiri tegak.
Karena kelak, yang akan diingat bukanlah siapa yang duduk paling lama di kursi, melainkan siapa yang menjaga amanah paling jujur di jalannya.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






