Kutukan Menara Gading: Fenomena Inkonsistesi Dihadapan Kekuasaan
Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)
Layar kaca dan lini masa kita hari ini dipenuhi oleh parade patah hati nasional. Kita menyaksikan drama yang berulang: sosok intelektual, akademisi, atau pemikir keagamaan yang dulu kita puja karena nalarnya yang jernih dan kalimatnya yang menusuk jantung kekuasaan, perlahan berjalan menunduk menuju pintu Istana. Mereka yang dulu mengutuk “kedunguan” kini menjadi kurator kebijakan di meja yang sama. Mereka yang bersumpah menolak jabatan demi menjaga integritas, kini tersenyum simpul di balik kursi empuk kekuasaan. Mengamati fenomena ini, masyarakat awam dengan mudah menjatuhkan vonis tunggal: kemunafikan. Namun, benarkah gejala ini sesederhana urusan moralitas individu yang runtuh digoda syahwat kekuasaan?
Reduksi Moral dan Ilusi Ruang Steril Politik
Jika kita hanya melihat fenomena ini sebagai kegagalan moral personal—atau sekadar kekalahan iman melawan godaan duniawi—kita sedang melakukan simplifikasi yang berbahaya. Pandangan moralistik yang sempit sering kali menjadi jalan pintas yang menafikan realitas sosiopolitik yang jauh lebih rumit. Politik, pada pertempuran riilnya, bukanlah ruang steril tempat kesucian moral bisa dipertahankan tanpa noda. Politik adalah arena pragmatisme yang cair.
Ketika seorang pemikir memutuskan menyeberang ke dalam lingkar kekuasaan, kita tidak bisa menutup mata terhadap argumen klasik mereka: “mengubah sistem dari dalam.” Di luar sistem, seorang intelektual hanyalah pemandu sorak atau kritikus tanpa daya eksekusi. Masuk ke dalam birokrasi, bagi sebagian orang, adalah pilihan rasional untuk mengubah retorika menjadi kebijakan konkret—sebuah kompromi yang melelahkan namun tak terhindarkan dalam realitas demokrasi.
Akrobat Retorika dan Pengkhianatan Nalar Publik
Namun, di sinilah letak letupan inkonsistensi itu menjadi masalah yang akut. Kesalahan terbesar para pesohor menara gading ini bukanlah pada keputusan mereka untuk berubah pikiran, melainkan pada ketidakjujuran intelektual saat membungkus perubahan tersebut. Ada perbedaan mendasar antara evolusi pemikiran yang jujur dengan kamuflase politik.
Ketika seorang tokoh berpindah posisi lalu secara ksatria berkata, “Dulu saya menolak karena situasinya A, kini saya melihat peluang di situasi B dan saya siap menanggung risikonya,” publik akan melihat sebuah kejujuran. Sayangnya, yang kerap kita tonton adalah akrobat retorika: mereka menggunakan dalil-dalil baru yang dipaksakan untuk membenarkan posisi barunya, sambil berpura-pura tidak pernah mengucapkan kutukan di masa lalu. Ini bukan lagi kompromi politik, melainkan penjinakan nalar publik demi kenyamanan posisi baru.
Kerentanan Struktural di Balik Tumbangnya Idealisme
Mengapa intelektual kita begitu rapuh? Kita tidak bisa melepaskan analisis ini dari absennya landasan struktural yang kuat di luar negara. Di Indonesia, posisi “intelektual publik” sering kali mandul karena mereka tidak ditopang oleh institusi riset yang independen atau kelas sosial yang mapan secara finansial. Akibatnya, menjadi oposisi atau pengkritik di luar sistem adalah posisi yang rentan secara logistik dan sosial.
Istana, dengan segala fasilitas, modal, dan jaminan kenyamanannya, menawarkan bentuk pelarian struktural yang sulit ditolak. Ketika negara menyedot para pemikir ini ke dalam pusarannya, yang terjadi bukanlah “intelektual yang mewarnai kekuasaan”, melainkan kekuasaan yang berhasil mendomestifikasi daya kritis mereka. Mereka bertransformasi dari pemikir yang menyuarakan keresahan rakyat menjadi teknokrat penjustifikasi kehendak penguasa.
Pengingat Langit: Menjinakkan “Raja” di Dalam Diri
Pada akhirnya, fenomena inkonsistensi ini adalah cermin retak yang menuntut kita untuk bersikap proporsional sembari mengembalikan pandangan ke dalam diri kita sendiri. Sebelum kita sibuk menghakimi keretakan integritas orang lain, agama telah memberikan peringatan yang sangat presisi mengenai watak dasar manusia. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sebuah hadis: “Musuhmu yang paling musuh adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.” (HR. Baihaqi).
Sering kali, “raja” yang paling berbahaya bukanlah penguasa yang duduk di istana megah, melainkan ego dan hawa nafsu yang bertakhta di dalam hati kita sendiri. Ia adalah penguasa yang pandai bersiasat, membungkus ambisi pribadi, kerinduan akan pengakuan, dan godaan kenyamanan dengan narasi-narasi mulia seolah-olah demi “pengabdian bangsa”.
Agama juga mengajarkan kita untuk moderat dalam menaruh rasa: jangan berlebihan dalam memuji, dan jangan ekstrem dalam mencela. Ketika kita mengultuskan manusia seolah mereka tak bisa jatuh, kita sedang bersiap untuk patah hati. Manusia adalah makhluk yang berbolak-balik hatinya—hari ini teguh, esok bisa tergelincir.
Ujian sejati dari sebuah integritas tidak pernah terletak pada seberapa lantang suara kita saat berada di luar pagar kekuasaan, melainkan seberapa kokoh kompas moral kita ketika pintu-pintu kemudahan dan kemewahan itu mulai terbuka lebar di depan mata. Semoga kita dijauhkan dari penyakit merasa paling suci, dan senantiasa dijaga hatinya oleh Zat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, agar tetap berpijak pada kebenaran, di mana pun posisi kita berada.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






