Pemerataan Ekonomi Hingga Daerah Terpencil Melalui Batalyon Tenaga Pembangunan pada Presiden Prabowo dan ABRI Masuk Desa pada Presiden Soeharto
Oleh Thowaf Zuharon
Bagi orang desa, pembangunan gampang dikenali. Hasil kebun lebih mudah dibawa ke pasar, anak-anak lebih lancar pergi ke sekolah, dan orang sakit lebih cepat mendapat pertolongan. Kemajuan terasa ketika ongkos berkurang, penghasilan bertambah, serta kehidupan sehari-hari menjadi lebih ringan. Dari situlah pemerataan memperoleh artinya.
Indonesia mempunyai ribuan pulau dengan tantangan yang berbeda. Ada kampung di balik gunung, permukiman di seberang sungai, dan desa yang perjalanan ke pusat kabupatennya bergantung pada cuaca. Menghadirkan kesejahteraan di tempat-tempat tersebut memerlukan tenaga, keterampilan, serta organisasi yang sanggup bekerja sampai ke lapangan.
Dalam kebutuhan itulah ABRI Masuk Desa pada masa Presiden Soeharto dan Batalyon Teritorial Pembangunan pada masa Presiden Prabowo menemukan pertautannya. Keduanya memberi ruang bagi pengabdian tentara untuk mendukung pembangunan masyarakat. Istilah Batalyon Tenaga Pembangunan dalam judul tulisan ini merujuk pada nomenklatur resmi Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan atau Yonif TP.
ABRI Masuk Desa, yang dicetuskan Jenderal M. Jusuf pada 1980, menempatkan desa sebagai ruang pengabdian. Di sana kehidupan sebagian besar rakyat bertumpu, pangan dihasilkan, dan kebersamaan dipelihara. Melalui pembangunan desa, kemampuan organisasi dan tenaga prajurit dipertemukan dengan kebutuhan serta prakarsa masyarakat.
Arti ekonominya dapat dilihat dari sebuah jalan. Ketika angkutan lebih mudah masuk, hasil pertanian lebih cepat sampai kepada pembeli. Biaya perjalanan dapat berkurang, pilihan pasar meluas, dan waktu warga lebih banyak tersedia untuk kegiatan produktif. Sebuah pekerjaan fisik membuka kesempatan bagi banyak keluarga sekaligus.
Ada pula hasil yang tumbuh melalui kebersamaan. Warga dan prajurit saling mengenal ketika berbagi pekerjaan. Dari pengalaman itu lahir kepercayaan dan kebiasaan bergotong royong. Keduanya merupakan modal pembangunan: masyarakat lebih mudah menghimpun tenaga, membagi tugas, dan merawat fasilitas yang digunakan bersama.
Semangat pembangunan desa tersebut berlanjut melalui TNI Manunggal Membangun Desa. Sementara itu, Yonif TP mempunyai bentuk tersendiri sebagai satuan militer dengan kemampuan pendukung kewilayahan. Pertanian, peternakan, kesehatan, dan konstruksi membuka ruang kontribusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Kehadiran yang lebih menetap memberi kesempatan untuk mengenali kehidupan setempat. Musim tanam, sumber air, keadaan jalan, serta keterampilan warga semakin dipahami melalui perjumpaan sehari-hari. Dukungan pun dapat diarahkan pada kebutuhan yang nyata, melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, koperasi, dan masyarakat.
Setiap daerah mempunyai kekuatannya sendiri. Ada yang unggul dalam hasil kebun, perikanan, atau peternakan. Pemerataan berkembang ketika kekuatan tersebut memperoleh dukungan teknis, sarana, dan hubungan pasar. Petani membawa pengalaman tentang tanahnya; tenaga pendukung membawa keterampilan dan kemampuan pelaksanaan. Pertemuan keduanya dapat memperluas kemampuan produksi masyarakat.
Kehadiran satuan juga berpotensi menggerakkan usaha lokal. Kebutuhan pangan, angkutan, pemeliharaan, serta layanan sehari-hari membuka peluang bagi warga. Ketika kebutuhan yang sesuai dipenuhi dari lingkungan sekitar, uang dapat beredar melalui petani, pedagang, pengangkut, dan penyedia jasa. Permintaan yang teratur membantu mereka merencanakan usaha dengan lebih baik.
Pelayanan kesehatan melengkapi manfaat tersebut. Pertolongan yang lebih dekat dapat menghemat waktu dan tenaga keluarga. Orang dewasa lebih terjaga kemampuan kerjanya, anak-anak lebih leluasa belajar, dan warga mempunyai kesempatan menangani kebutuhan kesehatan lebih awal. Kesejahteraan tumbuh melalui tubuh yang sehat sekaligus penghidupan yang produktif.
Bagi negara kepulauan, persebaran kemampuan pangan, kesehatan, dan dukungan teknis juga memperkuat ketahanan wilayah. Daerah mempunyai bekal lebih besar ketika perjalanan atau pasokan terganggu. Dengan demikian, pembangunan masyarakat dan kesiapan pertahanan dapat saling menopang, bertolak dari kebutuhan hidup yang paling mendasar.
Di sinilah pengalaman Presiden Soeharto dan ikhtiar Presiden Prabowo bertemu. AMD memperlihatkan arti pembangunan desa melalui kerja bersama. Yonif TP membuka peluang mempersebar kemampuan pendukung secara berkesinambungan. Nilai keduanya terletak pada kesediaan menghadirkan tenaga negara dekat dengan kehidupan rakyat.
Pada akhirnya, pemerataan terasa ketika semakin banyak keluarga dapat membangun masa depan di kampungnya sendiri. Petani memperoleh pasar, anak muda menemukan peluang usaha, dan masyarakat menjangkau pelayanan lebih dekat. Jalan yang tetap bisa dilalui sesudah hujan, panen yang tiba dengan baik, serta pertolongan yang datang tepat waktu menjadi tanda bahwa Republik hadir dan ikut merawat harapan rakyatnya.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







