ANALISA 1.474 HEKTAR MANGROVE BANTEN UTARA: KUNCI ATASI ABRASI, KETAHANAN LINGKUNGAN DAN PENGANGGURAN
Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang
I. FAKTA DATA MANGROVE BANTEN UTARA.
Kongres Rakyat Banten V saat ini fokus pada pengelolaan hutan mangrove di Banten Utara. Hal ini terungkap dalam seminar publik Kongres Rakyat Banten V bekerja sama dengan Kampus Untirta yang dilaksanakan di Kampus Untirta pada tanggal 24 Oktober 2026 dengan narasumber para akademisi Banten dan dihadiri tokoh Banten, akademisi dan masyarakat Banten.
Berdasarkan data yang dimiliki Kongres kongres rakyat Banten V, fakta lapangannya adalah sebagai berikut:
Data 1: Luasan Lahan 1.474 Hektar di 9 Titik Pesisir Utara Kabupaten Tangerang.
1. Ds Karang Serang Kec Sukadiri: 150 ha.
2. Pulau Cangkir Kec Kronjo: 191 ha.
3. Kemiri: 200 ha.
4. Mauk: 185 ha.
5. Kemiri: 175 ha.
6. Paku Haji: 162 ha.
7. Tanjung Pasir Kec Teluk Naga: 148 ha.
8. Tanjung Burung Kec Teluk Naga: 85 ha.
9. Tanjung Kait Kec Mauk: 178 ha.
Sub total: 1.474 ha.
Data 2: Sebaran Tanam 63 Km dan Target 1 Juta Pohon.
1. Bentang tanam: 63 Km dari Pantai Dadap hingga Pantai Gopek / Karangantu.
2. Target tanam: 1 Juta Pohon Mangrove selama 5 Tahun.
3. Target pendek: Penanaman 100.000 Batang pohon mangrove
4. Kebutuhan anggaran: Hanya Rp 5 Miliar dengan hitungan @Rp 5.000 per pohon
5. Peserta sudah siap: beberapa Kelompok LMDH dan petani, antara lain di Pantai Gopek 48,8 Ha butuh 200.000 batang, Pagedangan Ilir Kronjo 48.000 batang, Tunas Harapan 25.000 batang, Pulau Cangkir 22.000 batang, dan Kopi Susu Pontang 10.000 batang sebagai bukti mangrove bernilai ekonomi.
Sumber dana direncanakan pemerintah dan dunia usaha melalui CSR.
II. POTENSI BESAR DARI 1.474 HEKTAR MANGROVE.
1. Potensi Mengatasi Abrasi dan Menyelamatkan 63 Km Garis Pantai.
Garis pantai 63 Km Dadap – Gopek Karangantu adalah wilayah abrasi berdampak di Banten. Desa-desa di Kronjo, Mauk, Pakuhaji, Teluk Naga dan Karangantu setiap tahun kehilangan daratan.
1.474 hektar mangrove adalah benteng alami paling murah dan paling efektif. Akar mangrove menahan ombak dan mengikat sedimen. Jika 1 juta pohon tertanam, maka ribuan hektar tambak dan pemukiman nelayan akan selamat.
Kerugian negara akibat abrasi jika tidak ditangani bisa ratusan miliar, jauh lebih besar dari modal Rp 5 Miliar untuk penanaman.
2. Potensi Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran di Pesisir.
Inilah hubungan langsung antara mangrove dengan isu ketenagakerjaan, kemiskinan dan pengangguran yang disoroti Kongres di seminar Untirta 24 Oktober 2026 lalu.
– Lapangan Kerja Padat Karya: 1 juta pohon butuh pembibitan, penanaman, dan perawatan selama 5 tahun. Ini menyerap ratusan petani di 9 titik tersebut.
– Pendapatan Nelayan Naik: Hutan mangrove adalah tempat berkembang biak kepiting bakau, udang, bandeng dan kerang. Jika 1.474 hektar pulih, hasil tambak di Kemiri, Mauk, Paku Haji dan Tanjung Pasir akan meningkat. Nelayan tidak perlu melaut jauh.
– Lahirnya UMKM Baru: Buah mangrove bisa diolah menjadi kopi, dodol, sirup, dan tepung. Contoh nyata adalah Kopi Susu Pontang 10.000 batang milik Tati Sagita. Jika dikembangkan di 1.474 hektar, maka ibu-ibu nelayan bisa memiliki usaha kopi mangrove dengan harga jual yang kompetitif. Ini ekonomi sirkular: tanam, rawat, panen buahnya tanpa tebang pohonnya.
3. Potensi Carbon Mangrove dan Perdagangan Karbon Bernilai Puluhan Miliar.
Ini adalah potensi terbesar yang menjadi alasan Kongres rakyat Banten V akan mengajak kerja sama dengan Kementerian KLH dan pihak swasta.
1 hektar mangrove mampu menyerap 800 – 1.000 ton karbon. Maka 1.474 hektar mampu menyerap 1,2 Juta – 1,4 Juta Ton Karbon.
Dengan harga karbon nasional sekitar Rp 60.000 – Rp 90.000 per ton, maka nilai potensinya mencapai Rp 72 Miliar – Rp 126 Miliar.
Jika dikelola dan disertifikasi oleh KLH, maka mangrove Banten Utara bisa masuk dalam skema carbon trading atau perdagangan karbon. Hasilnya bisa menjadi PAD baru bagi Banten.
Modal Rp 5 Miliar, potensi balik Rp 72 – 126 Miliar. Ini adalah investasi lingkungan yang sangat menguntungkan.
4. Potensi Wisata Edukasi dan Ekowisata.
Jika 9 titik seluas 1.474 hektar dan bentang 63 Km ditanami, maka akan menjadi hutan mangrove terpanjang di Jawa bagian barat. Pulau Cangkir yang sudah ada 191 ha dan Ketapang Urban bisa menjadi model wisata edukasi.
Wisatawan dari Jakarta dan Tangerang akan datang untuk melihat hutan mangrove, belajar tentang karbon, dan menikmati makanan ringan hasil olahan dari mangrove langsung di lokasi. Pemuda pesisir bisa menjadi pemandu wisata dan pengelola homestay.
III. CATATAN KRITIS TERKAIT KEHADIRAN GUBERNUR.
Sayangnya Gubernur Banten tidak hadir dalam seminar publik di Untirta pada 24 Oktober 2026, padahal Kongres rakyat Banten V jauh-jauh hari telah berkirim surat resmi untuk audiensi, namun tidak ada respon. Sehari setelahnya, 25 Oktober, PUB (Paguyuban Urang Banten) mengadakan acara di Lebak Banten dan Gubernur hadir.
Fakta ini harus disikapi secara konstruktif:
1. Jangan Anggap Kongres Sebagai Kelompok Kritis. Seminar di Untirta membahas data akademis 1.474 hektar, kemiskinan dan pengangguran. Ini adalah kritik konstruktif berbasis data untuk membantu Gubernur. Gubernur diharapkan tidak terjebak pada asumsi bahwa Kongres rakyat Banten adalah kelompok kritis yang harus dihindari. Justru Kongres rakyat Banten adalah mitra strategis yang sudah memiliki data, peta, dan petani yang siap bekerja.
2. PUB dan Kongres Rakyat Banten Tujuannya Sama. PUB menanam pohon di Selatan pada 25 Oktober dan Kongres fokus 1.474 hektar mangrove di Utara pada 24 Oktober, tujuannya sama: Banten maju dan lestari. Gubernur adalah milik Utara dan Selatan, milik PUB dan milik Kongres Rakyat Banten dan milik rakyat Banten. Semuanya harus dirangkul bersama.
IV. REKOMENDASI.
1. Dukung Peresmian 100.000 Batang Mangrove Gubernur Banten diharapkan memberikan dukungan penuh dan Jadikan momentum tersebut sebagai pencanangan 1 Juta Pohon untuk 63 Km garis pantai.
2. Bentuk Konsorsium Mangrove Banten Utara. Kolaborasi Kongres V Rakyat Banten, Kementerian KLH, Pemprov Banten, Untirta untuk riset karbon dan biota, serta pihak swasta melalui CSR. Hanya butuh Rp 5 Miliar, satu perusahaan di Cilegon bisa menanggung Rp 500 Juta untuk 100.000 batang.
3. Jadikan produk produk makanan ringan dari mangrove Sebagai Produk Unggulan Banten. Berikan bantuan sertifikasi halal, kemasan, dan akses pasar. Kopi Mangrove Banten harus menjadi oleh-oleh khas dan masuk kafe-kafe di Jakarta.
1.474 hektar di 9 titik, 63 Km garis pantai Dadap – Gopek, target 1 juta pohon, anggaran hanya Rp 5 Miliar adalah bukti bahwa Kongres V Rakyat Banten tidak hanya berdiskusi di seminar.
Jika dikelola bersama KLH dan swasta, mangrove ini bukan hanya mengatasi abrasi, tetapi juga mengatasi kemiskinan, pengangguran, menghasilkan puluhan miliar dari carbon trading, dan melahirkan UMKM kopi mangrove.
Mari selamatkan mangrove Banten Utara untuk masa depan Banten.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







