spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniBerketuhanan

Berketuhanan

spot_img

Ngopi Sewarung

Berketuhanan

Kita sering mengucapkan nama Tuhan dan memanggil-Nya dalam begitu banyak ritual doa sepanjang kehidupan.

Namun, tak jarang panggilan itu terasa kering dan hampa. Ia berhenti sebatas suara dan kebisingan kata-kata, tanpa benar-benar menghadirkan kesadaran. Seolah-olah antara diri kita dan Tuhan berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Tuhan dibayangkan sebagai entitas yang jauh, berada di luar diri dan di luar kehidupan nyata manusia.

Itulah sebabnya ada orang yang begitu rajin menyebut dan meneriakkan nama Tuhan, tetapi perilakunya justru jauh dari sifat-sifat ketuhanan. Kata-katanya keras, tindakannya kasar, pikirannya dipenuhi kebencian, bahkan mudah merendahkan dan menyalahkan orang lain.

Padahal, jika Tuhan benar-benar hadir dalam kesadaran, bukankah kehadiran itu semestinya tercermin dalam perilaku?

Banyak orang berdoa agar kehidupannya berubah, agar keinginannya tercapai, rezekinya bertambah dan jalan hidupnya dimudahkan. Namun setelah doa selesai, kehidupan kembali berjalan seperti semula. Doa menjadi ritual yang berulang, sementara kesadaran dan perilaku tidak mengalami perubahan.

BACA JUGA :  Rocky Gerung Bukan Filsuf

Akhirnya, kehidupan beragama pun sering berhenti pada seremoni: rajin berdoa, rajin beribadah, rajin menyebut nama Tuhan, tetapi belum tentu menghadirkan nilai-nilai Tuhan dalam kehidupan nyata.

Manusia bahkan sering mencoba mendefinisikan, membatasi, dan membayangkan wujud Tuhan sesuai dengan ukuran pikirannya sendiri. Seolah-olah Yang Maha Tak Terbatas dapat dimasukkan ke dalam batas-batas imajinasi manusia.

Padahal, sepanjang sejarah, tidak ada manusia yang mampu menggambarkan wujud Tuhan secara utuh. Yang ada hanyalah keyakinan, simbol, tafsir dan pengalaman batin tentang-Nya. Ironisnya, sesuatu yang seharusnya mendekatkan manusia kepada Tuhan justru kadang menjadi sumber perbedaan dan konflik.

Tentu saja demikian.

Sebab, Ia adalah Sang Maha Segalanya. Tak terwujud dalam bentuk yang mampu ditangkap oleh pikiran manusia, tetapi keberadaan-Nya terasa dalam setiap denyut kehidupan.

Ia hadir dalam keteraturan alam semesta, dalam hukum-hukum kehidupan, dalam gerak alam makro maupun kehidupan alam mikro di dalam tubuh manusia. Tidak ada satu pun gerak kehidupan yang benar-benar berada di luar pengetahuan-Nya.

BACA JUGA :  Pilpres Satu Putaran: Jalan Tengah untuk Membatasi Oligarki dan Kartel Politik

Karena itu, mungkin Tuhan tidak untuk sekadar dibayangkan, diperdebatkan, atau diteriakkan nama-Nya.

Tuhan untuk disadari kehadiran-Nya.

Ia adalah Sang Maha Pengamat yang menyaksikan setiap gerak kehidupan, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Dan Ia sekaligus Sang Maha Eksekutor, yang menjalankan hukum-hukum kehidupan dengan cara yang sering kali melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya.

Maka, cara menyadari keberadaan Tuhan bukan dengan semakin keras meneriakkan nama-Nya, melainkan dengan semakin dalam merasakan kehadiran-Nya dalam setiap momentum kehidupan.

Hadirkan sifat-sifat-Nya dalam perilaku.

Jika Tuhan Maha Pengasih, hadirkan kasih.

Jika Tuhan Maha Pengampun, belajarlah mengampuni.

Jika Tuhan Maha Adil, berlaku adillah.

Jika Tuhan Maha Menjaga, jagalah kehidupan.

Sebab mungkin ukuran kedekatan kita kepada Tuhan bukan seberapa sering kita menyebut nama-Nya, melainkan seberapa jauh sifat-sifat-Nya hidup dalam diri dan tercermin melalui tindakan kita.

BACA JUGA :  YANG MULIA, TETAPLAH MERDEKA

Tuhan tidak pernah jauh.

Kita, tentu juga termasuk saya, sering terlalu sibuk mencari-Nya di luar sana, sementara lupa merasakan kehadiran-Nya dalam setiap tarikan napas dan setiap gerak kehidupan. Begitulah yang dimaksud hidup Ber-ke-Tuhan-an.

Get the feeling
Mr. Ten


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Yang Utama Itu Rasa, Bukan Logika
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img