Demonstrasi yang Meledak Dahsyat di Jalanan Eropa, Mengapa?!
Re‑writing oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD; Penggiat Literasi)
IPCE, Selasa 20 Oktober 2026 — Jika tulisan Batin Peradaban yang Retak mengajak kita merenung ke dalam, pada kehampaan jiwa manusia modern, maka tulisan ini menyaksikan saat retakan batin itu meledak menjadi pemandangan nyata di atas aspal jalan‑jalan kota. Apa yang terjadi di Eropa saat ini bukan lagi sekadar prediksi akademis; ia adalah bukti langsung bahwa sebuah tatanan sedang mulai mengurai fondasinya sendiri.
Malam tanggal 17 Oktober 2026 akan tercatat sebagai salah satu titik paling kelam dalam sejarah modern Prancis. Lebih dari 550 000 orang turun ke jalanan. Dari Paris hingga Marseille, Lyon hingga Toulouse, pusat‑pusat kota mengalami kelumpuhan. Awalnya pemicunya adalah keluhan mendasar para pelajar: ruang kelas yang penuh sesak, atap sekolah yang bocor, serta rasa hilangnya harapan akan masa depan. Namun dalam hitungan jam, api kemarahan itu menjalar ke persoalan yang lebih mendalam: tekanan biaya hidup yang semakin mencekik.
Saat malam tiba, gelombang protes berubah menjadi tindakan destruktif. Gerakan Yellow Vest kembali bangkit, bergabung dengan serikat pekerja dan mahasiswa. Simbol‑simbol otoritas negara menjadi sasaran:
‑ Balai kota Limoges yang berusia 143 tahun terbakar hingga menara loncengnya runtuh, menyisakan puing‑puing menghitam sebanyak dua pertiga bangunan;
‑ Balai kota di Marseille dan Lille dijebol, sejumlah kawasan wisata utama Lyon hangus terbakar;
‑ Sepanjang Champs‑Élysées dan Rue de Rivoli, etalase toko mulai dari supermarket, apotek hingga butik mewah dijarah.
Dampaknya sangat besar: hampir 2 400 orang ditangkap, lebih dari 600 anggota aparat terluka, dan dua remaja berusia 17 tahun mengalami cedera permanen — satu kehilangan tangan di Saint‑Étienne, satu lagi kehilangan penglihatan di Mulhouse.
Gelombang ini pun menyeberangi batas negara dalam waktu kurang dari 24 jam. Slogan “Facciamo come in Francia” (“Mari kita lakukan seperti di Prancis”) bergema di Milan, Turin, dan Bologna. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan dengan keprihatinan: “Berdemonstrasi adalah hak. Membakar kota kita bukanlah hak.” Namun peringatan itu datang terlambat; api telah menyebar ke berbagai kota di Eropa.
Hulu Masalah: Ketika Konflik Militer Menjadi Beban di Meja Makan
Mengapa ledakan sosial ini terjadi secara serentak pada musim gugur 2026? Penyebab utamanya tidak hanya berada di Paris atau Roma, melainkan pada gangguan jalur energi di kawasan Selat Hormuz. Sejak meletusnya konfrontasi militer blok AS‑Israel dengan Iran pada Februari 2026, jalur pasokan energi dunia mengalami hambatan serius. Meskipun secara geografis Eropa tidak berada di zona pertempuran, benua ini menjadi pihak yang paling merasakan dampak biaya dari konflik tersebut.
Data Komisi Eropa menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan: harga diesel rata‑rata mencapai 2,24 euro per liter, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Antara Februari hingga Oktober 2026, harga bensin naik 23 persen dan diesel naik 35 persen. Upaya darurat Prancis melepaskan 10 juta barel solar dari cadangan strategisnya tidak mampu mengatasi tekanan harga secara mendasar. Inflasi Zona Euro mencapai 3,8 persen pada September, didorong kenaikan harga energi sebesar 18,8 persen secara tahunan. Masyarakat Eropa mulai menyadari bahwa mereka harus menanggung biaya dari konflik yang tidak pernah mereka pilih. Tiga jalur transmisi krisis yang telah dipetakan sebelumnya — komoditas, upah, pasar keuangan — kini bermuara pada kemarahan sosial akibat menurunnya daya beli masyarakat.
Sosiologi Kekuasaan: Logika Pencabutan Sulthan
Dalam kerangka pemikiran IPCE, sulthan (otoritas dan legitimasi kekuasaan) bukanlah hak mutlak penguasa, melainkan amanah yang dapat ditarik kembali kapan saja. Pencabutan legitimasi sering kali muncul ketika sistem merasa berada di puncak kekuasaannya. Gelombang demonstrasi saat ini merupakan perwujudan sosiologis dari pencabutan sulthan. Ketika ratusan ribu orang turun dan merusak simbol negara, mereka tidak hanya menuntut perubahan kebijakan harga atau undang‑undang; mereka menyampaikan pesan bahwa kontrak sosial telah dianggap tidak berlaku lagi, sistem tidak lagi berpihak pada rakyat.
Namun para pemimpin banyak yang gagal membaca tanda‑tanda tersebut. Emmanuel Macron menunjuk kelompok sayap kiri ekstrem sebagai penyebab; Perdana Menteri Lecornu menyatakan hal serupa; di Italia Meloni menyalahkan kelompok preman. Mereka sibuk mencari kambing hitam politik, tanpa melihat bahwa fondasi tatanan itu sendiri yang sedang rapuh.
Pertemuan Tiga Lapisan Krisis
Peristiwa‑peristiwa di Eropa saat ini adalah titik pertemuan tiga lapis krisis yang berjalan bersamaan:
1. Lapisan Geoekonomi: Gangguan pasokan energi memicu inflasi, inflasi menurunkan daya beli, dan penurunan daya beli melahirkan amuk massa. Ini adalah salah satu wujud kerusakan di muka bumi akibat perbuatan manusia sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar‑Rum: 41.
2. Lapisan Geopolitik: Ketidakstabilan Timur Tengah menunjukkan bahwa tidak ada wilayah yang sepenuhnya aman menjadi penonton konflik. Jaminan keamanan Eropa ternyata rapuh, salah satunya melalui kenaikan harga bahan bakar di dalam negerinya sendiri.
3. Lapisan Eksistensial: Menurunnya kepercayaan publik. Ketika negara merespons keluhan perbaikan sekolah dengan represi dan penangkapan ribuan warga, tatanan lama kehilangan dasar moralnya untuk dipertahankan.
Api protes kini terus menjalar ke Belgia (Brussels, Liège), Portugal (Lisbon, Porto), Spanyol, Albania, hingga Polandia. Ini bukan lagi gejala lokal, melainkan gugatan massal terhadap ilusi sistem yang dibangun di atas tumpukan utang, spekulasi keuangan, dan ketergantungan energi dari wilayah konflik.
Di Antara Puing‑puing: Siapa “Mereka yang Tersisa”?
IPCE mengajak kita merenung: di tengah reruntuhan sistem, ada kelompok “mereka yang tersisa”, yaitu orang‑orang yang menolak ikut dalam kezaliman dan kebohongan, lalu bertahan untuk membangun kembali. Sejarah mengajarkan bahwa ketika sistem runtuh, yang pertama muncul adalah kemarahan manusia — kemarahan yang bisa merusak bangunan tua, namun belum tentu mampu membangun fondasi baru. Kemarahan itu bisa sah secara moral, tetapi sering kali masih kosong dari landasan spiritual. Maka muncul pertanyaan penting:
‑ Dari ratusan ribu orang yang turun ke jalan, berapa banyak yang bergerak karena kerinduan akan keadilan sejati, dan berapa banyak hanya karena tekanan kebutuhan perut?
‑ Ketika gas air mata hilang dan malam kembali tenang, berapa banyak yang akan mulai membangun tatanan baru yang berpijak pada nilai‑nilai ketuhanan?
Epilog: Menelanjangi Ilusi
Gelombang demonstrasi di Prancis, Italia dan Eropa Barat bukanlah penyebab keruntuhan peradaban modern Barat; ia adalah gejala dari kerusakan yang sudah ada sejak lama, yang sebelumnya tertutup oleh angka‑angka pertumbuhan ekonomi dan retorika politik yang menarik. Ketika sebuah sistem gagal menjalankan fungsi paling dasarnya — memastikan warga bisa makan dengan tenang dan anak‑anak belajar di bawah atap yang aman — maka sistem itu telah kehilangan hak moral untuk memimpin. Sulthan telah dicabut dari tangan penguasa yang merasa diri paling berkuasa. Di tengah malam Eropa yang diterangi api demonstrasi, peradaban ini dihadapkan pada pilihan: terus terhanyut dalam kemarahan destruktif, atau kembali menuju tatanan yang sejati.
Wallahu A’lam bissawab…
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







