Ekonom InFast: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,4 Persen pada Kuartal III 2026, Kredit Perbankan Meningkat
INDOVIEWNEWS.COM— Peneliti InFast, Gede Sandra, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 tetap ekspansif di kisaran 5,4 persen. Proyeksi tersebut ditopang peningkatan pertumbuhan kredit perbankan nasional serta membaiknya aktivitas sektor manufaktur, meskipun pasar saham tengah bergejolak.
Hal itu disampaikan Gede Sandra kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/11/2026), saat menanggapi gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi sekitar 1 persen pada pembukaan perdagangan hingga menyentuh level di bawah 5.000, sebelum kembali mengalami rebound.
Menurut Gede, pergerakan pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi sektor riil. Fenomena tersebut dikenal sebagai decoupling atau keterpisahan antara main street yang merepresentasikan sektor riil dan Wall Street yang menggambarkan pasar keuangan.
Menurut Gede, pergerakan pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi sektor riil. Fenomena tersebut dikenal sebagai decoupling atau keterpisahan antara main street yang merepresentasikan sektor riil dan Wall Street yang menggambarkan pasar keuangan.
Gede menilai, kekeliruan terjadi ketika gejolak pasar saham selalu dikaitkan secara langsung dengan kondisi perekonomian masyarakat.
Ia mencontohkan data Susenas yang diolah untuk periode 2018–2026. Data tersebut menunjukkan jumlah masyarakat kelas atas turun dari 1,1 juta jiwa menjadi 1,05 juta jiwa, sementara kelas menengah merosot dari 59,5 juta jiwa menjadi 42 juta jiwa.
Sebaliknya, kelompok masyarakat rentan miskin meningkat dari 53,3 juta jiwa menjadi 74,8 juta jiwa atau bertambah 21,5 juta jiwa.
“Pada periode yang sama dengan kejatuhan kelas-kelas ekonomi di masyarakat tersebut, secara tren malah terjadi peningkatan di pasar saham. Nilai IHSG dari titik terendah di 5.756 (12 Oktober 2018) sampai ke titik tertinggi 8.936 (9 Januari 2026), atau naik 55%,” papar Gede.
Kredit Perbankan Jadi Penopang Pertumbuhan
Terkait proyeksi ekonomi, Gede melihat pertumbuhan kredit perbankan nasional menjadi salah satu indikator penting yang menopang ekspansi ekonomi pada kuartal III 2026.
Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,26 persen pada September 2026. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 7,7 persen.
Secara lebih terperinci, kredit investasi melonjak dari 15,1 persen pada kuartal III 2025 menjadi 23 persen pada kuartal III 2026.
Sementara itu, pertumbuhan kredit modal kerja juga meningkat tajam dari 3,3 persen menjadi 11,8 persen pada periode yang sama.
Gede menilai, dengan tren pertumbuhan kredit yang semakin ekspansif tersebut, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 semestinya tidak berada di bawah 5 persen, bahkan berpotensi mencapai 5,4 persen.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 5,04 persen.
Selain kredit perbankan, sektor manufaktur juga dinilai memberikan dorongan positif terhadap perekonomian nasional.
Hal itu terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 52,4 poin pada September 2026 dan meningkat menjadi 54 poin pada Oktober 2026.
Angka tersebut lebih ekspansif dibandingkan PMI September dan Oktober 2025 yang masing-masing tercatat sebesar 50,4 poin dan 51,2 poin.
“Apalagi ada pendorong lain, yaitu dari sektor manufaktur. Terlihat dari data PMI index September dan Oktober 2026 berturut-turut sebesar 52,4 poin dan 54,0 poin, lebih ekspansif ketimbang PMI September dan Oktober 2025 yang berturut-turut sebesar 50,4 poin dan 51,2 poin,” pungkasnya.
Pertumbuhan 5 Persen Belum Cukup Selamatkan Kelas Menengah
Meski memproyeksikan ekonomi tetap tumbuh ekspansif, Gede mengingatkan bahwa pertumbuhan di kisaran 5 persen belum cukup untuk menahan kemerosotan kelas menengah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjelaskan mengapa masih banyak masyarakat kelas menengah yang mengkritik kinerja pemerintah. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum cukup cepat untuk menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan mereka.
Ia menegaskan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi setidaknya 6 persen agar kelompok kelas menengah dapat kembali tumbuh dan menguat.
Berdasarkan catatan sejarah ekonomi pasca-Reformasi, pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, seperti yang terjadi pada 2007, 2008, 2010, 2011, dan 2012, membutuhkan dukungan pertumbuhan kredit perbankan nasional rata-rata di atas 20 persen.
Dengan demikian, menurut Gede, tantangan ekonomi Indonesia bukan sekadar menjaga pertumbuhan tetap positif, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut cukup tinggi dan berkualitas sehingga mampu memperkuat daya beli serta memperbesar kembali kelompok kelas menengah.
Redaksi memberikan ruang klarifikasi, tanggapan, maupun informasi tambahan dari pihak-pihak terkait atas data dan pandangan yang disampaikan dalam pemberitaan ini, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






