Ngopi Sewarung
ALGORITMA, MUSUH KITA SESUNGGUHNYA
By Uten Sutendy
Jaringan kelompok pembuat gaduh negara diduga sudah berhasil menyusup ke berbagai elemen kekuatan negara. Dengan dukungan dana politik yang sangat besar dan jaringan yang dikendalikan dari luar negeri, mereka kini memiliki ruang gerak untuk menciptakan potensi kegaduhan yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Kasus ijazah Jokowi dan Gibran sesungguhnya bisa saja hanya menjadi pintu masuk. Sebuah kasus kecil yang dipakai untuk membuka pintu-pintu yang jauh lebih besar. Kini, pintu partai politik, lembaga yudikatif, kelompok mahasiswa, kelompok agama, bahkan lingkungan Istana, mulai menjadi arena pertarungan. Mereka menempatkan bom -bom waktu. Tinggal menunggu waktu kapan hendak diledakkan.
Pintu kepolisian pun tidak luput dari sorotan. Sikap yang terlalu berhati-hati dan keraguan dalam mengambil tindakan tegas sejak awal menimbulkan pertanyaan tentang seberapa kuat institusi negara menghadapi permainan ini.
Lalu, siapa sesungguhnya musuh bangsa Indonesia hari ini?
Bukan semata-mata Amerika, Belanda, atau kekuatan asing dalam pengertian konvensional. Ada ancaman lain yang jauh lebih sulit dikenali tokoh intinya tetapi agrn dan pion -pionya terlihat jelas bergentayangan.
Mereka menggunakan kekuatan algoritma besar yang bekerja melalui teknologi informasi, media sosial, dan jaringan komunikasi digital untuk memengaruhi pikiran, emosi, serta perilaku kelompok-kelompok masyarakat.
Algoritma yang mampu mengendalikan cara manusia berpikir tanpa disadari oleh manusia itu sendiri.
Bagaimana algoritma bekerja?
Cara kerja algoritma besar sesungguhnya menyerupai cara kerja setan dalam kehidupan manusia. Ia tidak selalu menciptakan sesuatu yang baru, tetapi memperbesar apa yang sudah ada di dalam pikiran dan hati seseorang.
Jika seseorang memiliki kebencian, algoritma akan menyodorkan informasi yang semakin memperkuat kebenciannya. Jika seseorang memiliki ambisi kekuasaan, algoritma akan memberinya narasi, pembenaran, dan dukungan yang mendorong ambisi tersebut menjadi tindakan nyata.
Begitu pula dengan rasa kecewa, ketakutan, fanatisme, dan prasangka. Semuanya bisa diperbesar, dipelihara, bahkan diarahkan untuk kepentingan tertentu.
Kekuatan algoritma sangat dahsyat. Ia bisa membalikkan persepsi, mengaburkan batas antara fakta dan kebohongan, bahkan membuat sesuatu yang salah tampak benar dan sesuatu yang benar terlihat salah.
Sebagai sebuah mesin, algoritma bekerja berdasarkan logika kausalitas. Ia tidak memiliki rasa, empati, apalagi nurani. Ia hanya mengolah data, membaca kecenderungan, lalu memperkuat respons yang dianggap paling efektif.
Karena itu, manusia yang paling rentan menjadi korbannya adalah mereka yang kehilangan kemampuan berpikir kritis dan membiarkan hati nuraninya tertutup oleh ego serta kepentingan.
Termasuk kelompok agama yang hanya mengejar surga dan pahala, kelompok politik yang terobsesi dengan kekuasaan, intelektual yang haus panggung, penguasa yang takut kehilangan jabatan, guru besar yang membutuhkan validasi, hingga kelompok muda yang ingin eksis dan memperoleh pengakuan.
Mereka bisa menjadi sasaran sekaligus alat bagi permainan algoritma.
Kehancuran sejumlah negara di Timur Tengah dan Amerika Latin sering dijadikan contoh bagaimana kekuatsn algoritma mampu menciptakan perang informasi, propaganda digital, konflik sosial, dan intervensi politik yang dapat meruntuhkan sebuah negara.
Indonesia tentu memiliki situasi dan karakter yang berbeda. Namun, kita patut waspada.
Jangan sampai Indonesia mengalami proses yang bisa disebut sebagai upaya di-Timur Tengah-kan atau di-Venezuela-kan.
Dalam skenario seperti itu, orang-orang yang kehilangan kejernihan berpikir dan nurani dapat berperan sebagai pion, bahkan agen bagi kepentingan yang lebih besar, tanpa menyadari siapa yang sesungguhnya sedang memanfaatkan mereka.
Lalu, mengapa Jokowi dan Gibran terus menjadi sasaran?
Dalam perspektif pertarungan politik, Gibran bisa dipandang sebagai penghalang bagi kelompok yang ingin mengubah konfigurasi kekuasaan di dalam Istana. Sementara Jokowi masih memiliki pengaruh politik dan menjadi salah satu fondasi spritual politik yang penting bagi konfigurasi kekuasaan Prabowo.
Mengapa KDM juga ikut menjadi sasaran kritik dan serangan?
Karena KDM memiliki basis dukungan sosial dan membawa narasi kearifan lokal serta nilai-nilai kebudayaan Nusantara. Sebuah kekuatan yang bisa menjadi faktor tidak menguntungkan bagi pihak yang ingin mendominasi ruang publik.
Lalu, siapa yang menggerakkan semua ini?
Salah satu kemungkinan adalah kepentingan elite global yang menghendaki dominasi ekonomi, politik, dan informasi dunia.
Apakah Istana mampu menghadapinya?
Apakah Presiden dan Istana memahami cara kerja algoritma serta kekuatan cyber army yang mungkin telah masuk ke berbagai lingkaran kekuasaan?
Tidak mudah menjawabnya. Sebab, dalam pertarungan politik sebelumnya, sebagian aktor yang kini berada di sekitar kekuasaan pernah memiliki posisi dan kepentingan yang berbeda.
Apakah Wantimpres mampu memberikan peringatan strategis? Lembaga penasihat itu justru berpotensi kehilangan independensi karena pengaruh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu juga ada di dalamnya.
Bagaimana pula dengan lembaga komunikasi pemerintah? Kenaikan anggaran dari miliran menjadi triliunan juga harus dikritisi dan dipertanyakan: jangan sampai anggaran yang seharusnya digunakan untuk melawan manipulasi informasi justru memperkuat jaringan propaganda baru.
Apakah presiden benar-benar memahami ancaman yang sedang dihadapi dan mampu memastikan seluruh perangkat negara bekerja untuk kepentingan bangsa.
Apa yang terlihat hari ini termasuk polemik pemakzulan Gibran, hanya kulit permukaan dari persoalan yang jauh lebih besar.
Pertarungan sesungguhnya adalah pertarungan antara nilai-nilai luhur Nusantara dengan kepentingan kekuatan yang ingin mendominasi kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya Indonesia.
Tanah Nusantara adalah tanah yang kaya, subur, dan memiliki kekuatan sumber daya alam maupun kebudayaan yang luar biasa. Karena itu, siapa pun yang ingin menguasainya tentu akan berhadapan dengan akar sejarah, ideologi, dan kekuatan sosial yang telah membentuk bangsa ini.
Dalam konteks itulah, gerekan mereka mulai dari penghancuran cara berpikir masyarakatnya.
Pancasila dikesampingkan. Agama didangkalkan menjadi sekadar identitas dan alat mobilisasi. Politik direduksi menjadi perebutan kekuasaan. Akademisi dan intelektual terseret menjadi pemain politik praktis. Seniman dan budayawan kehilangan independensinya, lalu berubah menjadi corong kepentingan.
Pada akhirnya, nilai-nilai luhur Nusantara kehilangan tempat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mereka menggunakan Post-Truth Politics, yaitu politik yang tidak lagi menempatkan kebenaran sebagai pijakan utama.
Prinsip permainannya sederhana:
“Jika ada satu kebenaran yang kuat dan dominan, ciptakan lima versi kebenaran lainnya.”
Tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan membuat masyarakat kebingungan, kehilangan pegangan, dan akhirnya tidak lagi mampu membedakan mana fakta dan mana manipulasi.
Kasus ijazah Jokowi dapat dibaca sebagai salah satu contoh pertarungan persepsi tersebut. Yang semula yakin menjadi ragu, yang ragu menjadi tidak percaya, dan yang tidak percaya akhirnya bisa terseret menjadi bagian dari pion kelompok yang terus menyebarkan narasi kebencian, pitnah dan adu domba.
Ketika algoritma berhasil menguasai pikiran manusia, ia tidak perlu lagi menaklukkan sebuah bangsa dengan kekuatan militer. Bangsa itu bisa menghancurkan dirinya sendiri.
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






