spot_img
spot_img
Senin, Oktober 5, 2026
BerandaHeadlineHendrajit: Reshuffle Kabinet Perkuat Konfigurasi Mega-Prabowo, Jejaring Jokowi Dipertanyakan

Hendrajit: Reshuffle Kabinet Perkuat Konfigurasi Mega-Prabowo, Jejaring Jokowi Dipertanyakan

spot_img

Hendrajit: Reshuffle Kabinet Perkuat Konfigurasi Mega-Prabowo, Jejaring Jokowi Dipertanyakan

INDOVIEWNEWS.COM— Pengamat geopolitik sekaligus wartawan senior Hendrajit menilai reshuffle kabinet pada 2 Oktober 2026 menunjukkan konfigurasi politik yang semakin terkonsolidasi, terutama dalam hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Menurut Hendrajit, sejumlah perubahan posisi strategis di bidang politik, keamanan, hukum, ekonomi hingga pemerintahan memperlihatkan adanya konfigurasi baru yang menurutnya dapat memperkuat hubungan Mega-Prabowo.

“Sebagai sebuah barisan sudah semakin oke ini reshuffle kali ini,” kata Hendrajit, Jumat (2/10/2026).

Ia menyoroti masuknya Komjen Suyuti dan Jenderal Dudung Abdurachman dalam posisi strategis. Menurut Hendrajit, terdapat latar belakang historis yang menghubungkan keluarga keduanya dengan Megawati.

“Jadi dengan keduanya menduduki jabatan Kapolri dan Menkopolkam, Megawati dan Prabowo punya sabuk pengaman yang kuat sebagai poros pusat dan jalinan penyatu di bidang politik, keamanan dan hukum,” ujarnya.

Di bidang hukum, Hendrajit menyebut posisi Yusril Ihza Mahendra juga menjadi bagian dari konfigurasi tersebut.

“Di bidang hukum, Yusril Ihza sudah dari awal menjadi sabuk pengaman Mega-Prabowo,” katanya.

Fondasi ekonomi Mega-Prabowo

Hendrajit juga mengaitkan konfigurasi ekonomi pemerintahan dengan konsensus politik antara Megawati dan Prabowo yang menurutnya telah dibangun sejak Deklarasi Batu Tulis 2009.

“Di sektor ekonomi, perdagangan dan industri, nampaknya konsensus Mega-Prabowo yang disusun sejak Deklarasi Batu Tulis 2009, masih tetap jadi fondasi kesepakatan mereka berdua. Urusan ekonomi, perdagangan dan industri jadi tanggungjawab Prabowo,” kata Hendrajit.

Ia menilai posisi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap dapat menyesuaikan diri dengan konfigurasi baru tersebut.

“Menko Ekonomi Airlangga walau sering disebut geng Solo, namun irisannya ke Mega melalui Ginandjar Kartasasmita sebagai salah satu patron politik Golkar, dengan mudah bisa menyesuaikan diri dengan konfigurasi baru ini,” ujarnya.

BACA JUGA :  Hendrajit Ingatkan Pemrakarsa Aksi 27 Agustus Harus Punya “Penglihatan Ganda” Antisipasi Plot Twist

Hal serupa, kata Hendrajit, terlihat dari pergantian Agung Gumiwang Kartasasmita dengan Sarmuji yang sama-sama berasal dari Partai Golkar.

“Pergantian Agung Gumiwang Kartasamita dengan Sarmudi yang juga dari Golkar, juga dengan mudah bisa menyesuaikan diri dengan konfigurasi politik baru ini,” katanya.

Pergeseran Pratikno dan jejaring Jokowi

Hendrajit menilai salah satu perubahan yang cukup signifikan adalah pergeseran posisi Pratikno dan masuknya Sugiono.

“Pergeseran politik yang lumayan signifikan justru dengan masuknya Sugiono menggantikan Pratikno,” kata Hendrajit.

Ia kemudian mempertanyakan dampak perubahan tersebut terhadap jejaring politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo di pemerintahan.

“Siapa paling dirugikan dengan hengkangnya Pratikno sebagai Menko PMK yang sebenarnya kalau istilah dulu Menko Kesra. Apakah ini menandai melemahnya jejaring Jokowi di pemerintahan?” ujarnya.

Namun, Hendrajit menegaskan bahwa jawabannya bergantung pada perspektif yang digunakan.

“Jawabannya tergantung sudut pandang yang melatari pertanyaan itu. Kalau anda berasumsi Pratikno memang orang dekat Jokowi, ya mungkin akses Jokowi ke dalam istana mulai melemah,” katanya.

Listyo Sigit dan posisi KSP

Hendrajit juga menyoroti masuknya mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan Dudung Abdurachman.

Menurutnya, posisi KSP yang sejak awal memiliki ruang kerja strategis sekaligus kompleks akan menjadi ujian bagi arah dan karakter kepemimpinan Listyo Sigit.

“Menurut saya, justru jabatan yang dari mula dibentuk bersifat abu-abu ini malah jadi batu ujian loyalitas Listyo Sigit apakah bisa berkomitmen dalam konfigurasi baru yang sejatinya berbasis pada aliansi strategis Mega-Prabowo,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dunia Kian Genting, China Diperkirakan Punya 500 Jet Siluman J-20, Lampaui Armada AS

Hendrajit mengatakan posisi KSP sejak era pemerintahan Jokowi hingga pemerintahan Prabowo sangat dipengaruhi oleh karakter masing-masing kepala lembaga tersebut.

“Uniknya posisi KSP sejak era awal Jokowi hingga era Prabowo, bobot strategisnya justru ditentukan kepribadian dan karakter ketuanya.

Zaman dipegang Teten Masduki dan Moeldoko, KSP punya ciri khas masing-masing,” kata Hendrajit.

Ia menilai pengalaman Dudung di KSP juga dapat dilihat sebagai proses orientasi sebelum menduduki posisi Menko Polkam.

“Bergabungnya Dudung, yang durasinya juga singkat, KSP berfungsi sebagai masa orientasi atau mungkin juga sebagai simulasi, buat mengenali seluk-beluk hubungan antarinstansi dan antaragensi birokrasi pemerintahan yang dari dulu sampai sekarang begitu ruwet kayak benang mungkret,” ujarnya.

Karena itu, menurut Hendrajit, pengalaman Dudung selama berada di KSP dapat menjadi modal dalam menjalankan tugas barunya.

“Maka dengan jabatan barunya sebagai Menko Polkam, masa tugasnya sebagai KSP pastinya merupakan proses inkubasi yang berguna,” katanya.

Dengan masuknya Listyo Sigit sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Hendrajit menyebut arah KSP ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana mantan Kapolri tersebut menjalankan perannya.

“Dengan adanya mantan Kapolri Listyo Sigit di KSP menggantikan Dudung, terserah Listyo mau diwarnai seperti apa KSP nantinya,” ujarnya.

Wamen hingga Reforma Agraria

Hendrajit juga menyoroti masuknya sejumlah wakil menteri dalam reshuffle kali ini. Menurutnya, posisi wakil menteri dapat memiliki sejumlah fungsi politik maupun pemerintahan, tergantung pada konteks pengangkatannya.

“Kalau itu bagian dari power sharing. Tapi dalam kasus wakil menteri Suahasil yang tak ada kaitan dengan power sharing koalisi partai saat menggantikan Purbaya, jabatan wamen bisa juga semacam wadah buat magang atau simulasi buat satu saat jadi menteri,” kata Hendrajit.

BACA JUGA :  Rekomendasi Motor Listrik Subsidi 5 Jutaan Terbaik, Bisa Dipakai Harian

Sementara itu, Hendrajit menilai masuknya Dedy Prasetyo sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional juga menjadi salah satu hal menarik dalam reshuffle.

“Inti soal bukan Dedy Prasetyo yang mantan Waka Polri. Tapi adanya Badan Reforma Agraria telah berfungsi untuk mengambil alih kewenangan kementerian yang kinerjanya tidak bisa mengikuti irama presiden,” ujarnya.

Menurut Hendrajit, rangkaian perubahan tersebut menunjukkan bahwa reshuffle tidak hanya berkaitan dengan pergantian personel, tetapi juga dapat dibaca sebagai penataan ulang konfigurasi pemerintahan dan hubungan antaraktor politik serta birokrasi.

Pandangan mengenai konfigurasi politik, hubungan antaraktor, serta dampak reshuffle dalam berita ini merupakan analisis Hendrajit. Media ini membuka ruang klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari perspektif pihak-pihak yang disebut atau terkait, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Kanvas Gemilang 2026: Investasi Ide, Bukan Bagi-bagi Uang
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img