Kemiskinan dan Pengangguran di Balik Cerita Kemajuan Banten
Oleh: Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang
Di tengah riuh rendah pesta pembangunan dan cerita tentang investasi yang masuk ke Banten, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Di balik gemerlapnya kemajuan yang sering kali dipajang di media dan pidato resmi, ternyata masih ada “pekerjaan rumah besar” yang belum selesai dituntaskan.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada Maret 2026, masih terdapat sekitar 746,73 ribu penduduk miskin di Banten, atau sekitar 5,38 persen dari total penduduk. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 masih berada di angka 6,48 persen.
Angka-angka ini bukan sekadar barisan bilangan dalam laporan statistik. Di balik setiap digit itu, ada wajah-wajah nyata: keluarga yang setiap hari berjuang menafkahi anak, pemuda yang berharap ada kesempatan kerja yang layak, dan masyarakat yang menunggu pembangunan benar-benar terasa menyentuh kehidupan mereka.
Kemajuan yang Belum Merata
Banten memang tumbuh dan berkembang. Pintu investasi terbuka lebar, kawasan industri terus bertambah, dan infrastruktur terus dibangun. Namun paradoks yang terjadi adalah: kemajuan itu belum dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Banten.
Jika dilihat lebih teliti, angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi ini adalah bukti bahwa kue pembangunan belum terbagi dengan adil. Pertumbuhan ekonomi yang diraih belum sepenuhnya berubah menjadi kesejahteraan bagi semua kalangan. Masih ada sekelompok masyarakat yang seakan berjalan di tempat, sementara sebagian lainnya terus melangkah maju.
Ini bukan hal yang sepele. Sebagai provinsi yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, Banten seharusnya mampu memberikan lebih banyak ruang dan kesempatan bagi warganya. Fakta bahwa ratusan ribu jiwa masih hidup dalam kemiskinan dan ribuan pemuda belum memiliki pekerjaan yang layak, adalah cermin bahwa arah pembangunan kita masih perlu diperbaiki.
Mengapa Masih Begini?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa angka-angka ini masih bertahan di tengah berbagai klaim keberhasilan pembangunan? Ada beberapa hal yang patut direnungkan bersama:
Pertama, pertumbuhan ekonomi dan investasi yang masuk belum sepenuhnya diiringi dengan perluasan kesempatan kerja yang layak bagi warga lokal. Banyak anak muda Banten yang masih berdiri di pinggir peluang, melihat wilayahnya maju pesat namun dirinya belum mendapatkan bagian yang layak.
Kedua, ketimpangan wilayah masih nyata. Pembangunan yang terpusat di sebagian daerah belum menjangkau wilayah-wilayah yang lebih membutuhkan. Akibatnya, kesenjangan tercipta antarwilayah, dan akses terhadap kesempatan hidup yang layak belum dimiliki secara setara oleh semua warga Banten.
Ketiga, kebijakan yang diambil belum sepenuhnya berbasis pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Pembangunan fisik memang penting, tetapi tidak ketinggalan penting adalah memastikan setiap warga memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak, pendidikan yang memadai, dan jaminan kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan Hadir Bukan Hanya di Peta, Tapi di Kehidupan
“pembangunan benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.” Inilah esensi paling mendasar dari makna pembangunan. Pembangunan tidak bermakna jika hanya terlihat di peta proyek, dalam pidato resmi, atau di berita media. Pembangunan baru bermakna ketika dirasakan langsung oleh keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan harian, oleh pemuda yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak, dan oleh setiap warga yang merasa hidupnya semakin sejahtera dari hari ke hari.
746.730 jiwa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan bukanlah angka yang bisa dianggap kecil. Demikian pula 6,48 persen pengangguran, yang berarti masih ada ratusan ribu harapan yang belum terpenuhi. Angka-angka ini adalah pengingat yang jujur bahwa pekerjaan rumah kita belum selesai. Justru di sinilah letak tanggung jawab pemerintahan yang sesungguhnya diminta untuk bekerja lebih keras dan lebih berpihak kepada rakyat kecil.
Mari Ubah Angka Menjadi Harapan
Tulisan sederhana ini adalah cermin sekaligus pengingat bagi kita semua. Kemajuan tidak boleh diukur dari seberapa tinggi gedung berdiri atau seberapa mulus jalan raya terbangun semata. Ukuran kemajuan yang sesungguhnya adalah: semakin sedikit rakyat yang miskin, semakin banyak pemuda yang memiliki pekerjaan layak, dan semakin merata keadilan dirasakan di seluruh penjuru Banten.
Jangan biarkan angka-angka ini terus berulang dari tahun ke tahun. Jadikan data ini sebagai dorongan nyata untuk bekerja lebih keras, lebih fokus, dan lebih berpihak kepada mereka yang masih berjuang. Karena sejatinya, pembangunan belum selesai selama masih ada satu keluarga yang merasa ditinggalkan oleh kemajuan itu sendiri.
“Angka statistik bercerita tentang fakta, tetapi di balik setiap angka itu, ada nyawa yang menunggu keadilan dan kesempatan yang lebih baik.”
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







