Sutoyo Abadi Soroti Pengkhianatan Intelektual: Ketika Kebenaran Ditukar dengan Jabatan dan Kekuasaan
INDOVIEWNEWS.COM— Koordinator Kajian Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai pengkhianatan intelektual, yakni ketika kaum terpelajar meninggalkan fungsi moralnya sebagai penjaga kebenaran demi mempertahankan jabatan, kedudukan, kepentingan kelompok, maupun kekuasaan.
Dalam catatannya pada 5 Oktober 2026, Sutoyo mengaitkan gagasan tersebut dengan pemikiran filsuf Prancis Julien Benda dalam karyanya La Trahison des Clercs (1927), yang dikenal dengan gagasan tentang the betrayal of intellectuals atau pengkhianatan kaum intelektual.
Menurut Sutoyo, pengkhianatan intelektual bukan sekadar persoalan kebohongan. Persoalan utamanya terjadi ketika seseorang yang semestinya mengejar kebenaran justru memilih mempertahankan posisi dan kepentingannya.
“Penghianatan intelektual tidak terjadi ketika mereka berbohong, melainkan ketika mereka menukar kebenaran dengan posisi.” kata Sutoyo.
Sutoyo menegaskan, kebohongan hanya merupakan gejala, sedangkan akar pengkhianatan terletak pada penyerahan kebenaran demi mempertahankan posisi.
“Seorang intelektual bisa tetap menyampaikan argumen yang tampak logis, tetapi jika tujuan utamanya adalah melindungi jabatan, menggembirakan penguasa, atau memenangkan kelompok, ia telah kehilangan fungsi moralnya sebagai penjaga kebenaran,” ujarnya.
Intelektual dan Kepentingan Kekuasaan
Sutoyo menjelaskan, kritik Julien Benda terhadap pengkhianatan intelektual berangkat dari fenomena kaum terpelajar Eropa yang meninggalkan sikap berpikir tidak memihak serta nilai-nilai universal seperti kebenaran dan keadilan.
Kaum intelektual, lanjutnya, kemudian berpihak pada nasionalisme, kepentingan kelas, rasisme, dan kekuasaan politik.
Dalam konteks tersebut, Sutoyo mengatakan, “posisi” tidak hanya berarti jabatan formal.
“Posisi mencakup jabatan akademik atau birokrasi, loyalitas kepada partai, rezim, atau patron, keuntungan finansial dan status sosial, keselamatan diri dari kritik, ancaman, atau isolasi, kepentingan kelompok identitas, meskipun bertentangan dengan fakta,” katanya.
Menurut Sutoyo, bentuk pengkhianatan yang paling berbahaya justru sering tidak muncul sebagai kebohongan kasar.
“Pengkhianatan paling berbahaya sering tidak tampak sebagai kebohongan kasar. Ia muncul ketika intelektual hanya mengajukan pertanyaan, ‘Apakah ini menguntungkan kelompok saya?’ bukan ‘Apakah ini benar dan adil?’” tegasnya.
Kecerdasan untuk Membenarkan Kekuasaan
Sutoyo juga menyoroti penggunaan kecakapan akademik untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya telah ditentukan secara politik.
Ia menyebut pengkhianatan intelektual dapat muncul dalam bentuk diam terhadap kesalahan karena takut kehilangan akses, jabatan, atau dukungan, hingga mengubah fakta menjadi alat propaganda.
“Pengkhianatan intelektual sering menggunakan kecakapan akademik untuk membenarkan keputusan yang sudah dipilih secara politik. Diam terhadap kesalahan karena takut kehilangan akses, jabatan, atau dukungan,” ujarnya.
“ Mengubah fakta menjadi alat propaganda, bukan dasar penilaian,” lanjut Sutoyo.
Karena itu, ia menyimpulkan bahwa seorang intelektual telah berkhianat ketika kecerdasannya tidak lagi digunakan untuk melayani kebenaran dan keadilan, tetapi justru untuk melayani posisi dan kekuasaan.
“Jadi, intelektual menjadi pengkhianat ketika kecerdasannya tidak lagi melayani kebenaran dan keadilan, melainkan melayani posisi dan kekuasaan. Di Indonesia sering terjadi karena memburu keuntungan finansial,” pungkasnya.
Media memberikan ruang bagi pihak-pihak yang disebut atau terkait untuk menyampaikan klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari perspektifnya sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.






