spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniKebenaran Itu Gak Ada, yang Ada Akhlak.

Kebenaran Itu Gak Ada, yang Ada Akhlak.

spot_img

Ngopi Sewarung

Kebenaran Itu Gak Ada, yang Ada Akhlak.

Sejak dulu hingga saat ini, orang sudah terbiasa berbicara bahwa apa yang sedang mereka lakukan adalah mencari dan menegakkan kebenaran. Seolah-olah kebenaran itu adalah sesuatu yang berada di ruang dan waktu yang berbeda, yang harus selalu ada, sehingga harus dicari atau diwujudkan.

Muncullah agama, paham dan ideologi, norma-norma, hukum, adat, dan seterusnya. Manusia tak pernah lelah mencarinya.

Nabi sudah berganti, agama berganti, kitab suci berubah, isme-isme dan ideologi datang dan pergi, aturan, hukum, serta regulasi pun berubah-ubah. Namun manusia terus mencari kebenaran itu.

Lalu, apakah kebenaran itu bisa ditemukan dan diwujudkan?

Ada yang merasa telah menemukannya, kemudian disepakati dan diyakini bersama, tetapi pada akhirnya berubah dan hilang dimakan waktu.

Ada yang belum juga menemukan, hingga berpindah-pindah agama, ideologi, aturan, dan undang-undang. Sampai akhirnya tak ada lagi yang bisa dipercaya, atau semuanya menjadi diragukan. Dan begitu seterusnya.

BACA JUGA :  Tajuk Rencana: Vonis Algoritma yang Menguji Taring Perpres 27/2026 di Tengah Amburadulnya Sistem Rating Ojol

Ada pula yang ngotot mempertahankan kebenaran dengan keyakinan yang kuat, lalu ditentang oleh orang lain. Akhirnya terjadi konflik dan perang.

Begitulah, dunia kemudian menjadi ramai dengan berbagai bentuk konflik untuk berebut, membela, dan menegakkan kebenaran.

Namun kebenaran yang dicari dan dikejar itu tak pernah benar-benar menetap. Ia berganti-ganti, berubah, tak diam, tak tersentuh, dan pada akhirnya hilang ditelan waktu.

Yang tersisa hanyalah jejak-jejak pencarian dalam beragam bentuk: literasi, artefak, dokumen, legenda, cerita, bahkan dongeng.

Apakah kebenaran itu ada? Atau gak ada?

Kebenaran, asal katanya adalah “benar”. Sama seperti kata kehujanan atau kebanjiran, yang asal katanya adalah “hujan” dan “banjir”, kemudian mendapat imbuhan “ke-” dan “-an”, sehingga menjadi kehujanan dan kebanjiran.

Ketika hujan datang, itu bagus. Hujan membuat tanah subur dan menghindarkan kita dari kekeringan.

Tetapi ketika seseorang kehujanan, ia bisa basah kuyup, kedinginan, harus berlindung, dan mungkin harus berganti pakaian.

Sungai yang dialiri air juga bagus. Tetapi ketika sungai kebanjiran, airnya meluap, terjadi rob, dan banyak rumah serta pohon bisa tumbang.

BACA JUGA :  Orang Baik Dijaga Semesta

Orang yang berkata dan bersikap benar itu bagus. Tetapi ketika seseorang merasa dirinya paling benar dalam berkata dan bersikap, jatuhnya bisa menjadi tidak bagus.

Bisa jadi, berkata dan bersikap benar itu dilakukan tanpa sengaja, hanya lewat begitu saja, atau bahkan sekadar kebetulan.

Karena kebenaran itu sifatnya cenderung tidak selalu benar, maka ajaran para leluhur dan para nabi, yang juga ditulis dalam kitab-kitab suci, sering kali tidak semata-mata mempermasalahkan substansi kebenaran.

Yang lebih penting justru adalah cara atau perilaku ketika seseorang sedang menyampaikan atau memperjuangkan kebenaran.

Yakni akhlak dalam menjalani proses tersebut.

Maka, hampir semua ajaran luhur menegaskan: yang mulia, yang utama, dan yang pertama adalah akhlak atau adab, serta ketakwaan. Bukan semata-mata ilmu, logika, atau kebenaran itu sendiri.

Sebab, kebenaran tanpa akhlak bisa berubah menjadi kesombongan.
Ilmu tanpa adab bisa berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Dan keyakinan tanpa akhlak bisa berubah menjadi pertentangan.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo dan Pengertian Kata Go-Block

Pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa yang paling benar.

Tetapi, bagaimana kita tetap berakhlak ketika merasa benar.

Get the feeling
Mr. Ten


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Uang yang Butuh Kita, Bukan Kita yang Butuh Uang
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img