spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniKecerdasan yang Tersumbat

Kecerdasan yang Tersumbat

spot_img

Ngopi Sewarung

Kecerdasan yang Tersumbat

Sejak awal, motif di balik gugatan mengenai ijazah Gibran sebenarnya sudah mulai terbaca. Apakah semata-mata untuk membuktikan ada atau tidaknya, serta sah atau tidak sahnya ijazah Wakil Presiden Republik Indonesia? Rasanya persoalannya tidak sesederhana itu.

Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari siapa yang menggugat dan siapa saja yang berada di belakang berbagai polemik tersebut. Nama-nama dan kelompok yang muncul terasa tidak jauh berbeda dengan mereka yang selama ini terus mengkritik, mendiskreditkan, bahkan mempersoalkan berbagai hal yang berkaitan dengan Presiden Jokowi dan keluarganya.

Sebelumnya muncul tuduhan dan polemik mengenai ijazah Presiden Jokowi. Kini perhatian bergeser kepada ijazah Gibran. Orang dan kelompok yang terlibat pun, dalam pandangan saya, masih berada di lingkaran yang relatif sama—mereka yang memiliki kekecewaan, perbedaan kepentingan, atau sikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi.

BACA JUGA :  Kebenaran Itu Gak Ada, yang Ada Akhlak.

Menariknya, banyak di antara mereka sebenarnya adalah orang-orang berpendidikan, berasal dari berbagai profesi, dan memiliki kemampuan intelektual yang tidak bisa dianggap remeh.

Namun, terkadang seseorang yang memiliki kecerdasan dan pengetahuan luas bisa kehilangan kejernihan ketika berhadapan dengan kepentingan, ambisi, atau emosi.

Mungkin inilah yang saya sebut sebagai kecerdasan yang tersumbat.

Kecerdasan tetap ada, tetapi salurannya tertutup oleh kepentingan dan prasangka. Akibatnya, sesuatu yang semestinya dapat dilihat secara sederhana justru menjadi rumit dan penuh kebisingan.

Di luar ruang sidang, berbagai pernyataan terdengar sangat meyakinkan. Data dan bukti dikatakan banyak dan kuat. Saksi serta ahli disebut-sebut akan dihadirkan dengan berbagai argumentasi yang hebat.

Tetapi ketika masuk ke ruang pengadilan, semuanya harus diuji melalui bukti, fakta, prosedur, dan logika hukum. Di sanalah setiap klaim tidak lagi cukup hanya dengan narasi, melainkan harus dapat dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA :  Rocky Gerung Bukan Filsuf

Dalam persoalan ijazah Gibran, misalnya, perdebatan menjadi menarik ketika dokumen dan riwayat pendidikan yang dipersoalkan mulai diperiksa secara lebih rinci.

Jika memang yang dipersoalkan adalah keberadaan ijazah SMA, maka harus dilihat terlebih dahulu bagaimana sebenarnya riwayat pendidikan yang bersangkutan. Jangan sampai kita memperdebatkan sesuatu yang sejak awal memang tidak ada, lalu menjadikannya dasar untuk membangun tuduhan baru. Digugat ijazah SMA gak ada, ya memang gak ada, karena Gibran sekolah dan kuliah di Singapura dan Australia.Bukan lulusan dari lembags pendidikan dalam negeri.

Pada akhirnya, polemik seperti ini memberi kita pelajaran penting: kecerdasan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kejernihan dalam melihat persoalan.

Sebab ketika kecerdasan bercampur terlalu jauh dengan ambisi dan kepentingan politik jangka pendek, yang lahir bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan kebisingan.

BACA JUGA :  DARI PERCEPATAN KEKUASAAN KE GIBRAN – KDM; KESIAPAN POLITIK ATAU TESTING THE WATER?

Dan ironisnya, kebisingan itu bisa membuat orang-orang cerdas justru terlihat kehilangan kejernihan berpikir.

Mungkin bukan kecerdasannya yang hilang.

Hanya saja, salurannya sedang tersumbat.

Get the feeling
Mr. Ten


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Rocky Gerung Bukan Filsuf
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img