spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 6, 2026
BerandaOpiniDi Balik Pintu Istana: Ketika Rocky Gerung Masuk ke Dalam

Di Balik Pintu Istana: Ketika Rocky Gerung Masuk ke Dalam

spot_img

Di Balik Pintu Istana: Ketika Rocky Gerung Masuk ke Dalam

Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)

Masuknya Rocky Gerung ke jajaran Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bagai sebuah paradoks yang hidup. Selama puluhan tahun, namanya adalah sinonim keberanian membentur tembok kekuasaan; hari ini, tembok itu sendiri yang membukakan pintu untuknya.

Pertanyaannya kini bukan sekadar: “Apakah ia akan tetap kritis?” Melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: di mana seorang intelektual sejati seharusnya berdiri — di atas angin, atau ikut terhanyut oleh arus?

Intelektual Seharusnya Tetap Berdiri di Atas Angin

Seorang intelektual memang seharusnya tetap berdiri di atas angin — tidak dibawa ke sini, tidak ditiup ke sana, tidak tunduk pada tekanan siapa pun. Pemikiran yang tajam, sikap kritis, dan suara penyeimbang seperti yang selama ini disampaikan Rocky, bukan sekadar hiasan demokrasi. Ia adalah kebutuhan sistemik — penyeimbang agar kekuasaan tidak melengkung, agar keputusan tidak berat sebelah, dan agar kebenaran tidak terdesak ke pinggir.

Apalagi, realitas politik kita hari ini diwarnai oleh “fat coalition” — koalisi yang begitu gemuk, mencakup begitu banyak kekuatan, sehingga di ruang-ruang resmi praktis tidak tersisa ruang bagi oposisi. Tidak ada pihak yang berdiri di seberang untuk mengingatkan, memeriksa, atau menahan jika arah mulai melenceng. Dalam situasi seperti ini, peran penyeimbang tidak lagi datang dari partai politik — ia justru harus dipikul oleh mereka yang memiliki kejernihan berpikir, integritas, dan keberanian berkata apa adanya.

BACA JUGA :  81 Tahun Merdeka, Rakyat Makin Terlupa

Maka, masuknya Rocky ke dalam lingkaran kekuasaan bukan sekadar pergantian posisi. Ia adalah perpindahan satu-satunya suara penyeimbang dari luar ke dalam. Dan di sinilah letak taruhannya: jika suara itu ikut melemah, maka siapa lagi yang akan menjaga keseimbangan?

Kritik yang Berubah Wujud: Menjaga Jarak, Bukan Menjadi Bagian dari Bayang-Bayang

Rocky menyatakan: ia hanya pindah tempat, bukan mengubah arah. Dari luar ke dalam, dari pengamat menjadi penasihat. Namun siapapun yang memahami dinamika kekuasaan tahu: jarak menentukan kejernihan pandangan. Ketika kita berdiri di luar, kita melihat bangunan secara utuh — retak di fondasi, kemiringan tiang, bayangan yang jatuh tidak pada tempatnya. Begitu melangkah masuk, pandangan kita terbagi: sebagian terhalang pilar, sebagian diterangi lampu yang dibuat agar terlihat indah.

“Kritis” di dalam istana bukan lagi hal yang sama dengan “kritis” di halaman luar. Di luar, kritik adalah seruan agar bangunan tidak rubuh. Di dalam, kritik berisiko disesuaikan — dibungkus sopan, diukur takarannya, ditunda penyampaiannya — hingga akhirnya tidak lagi menampakkan retak, melainkan hanya memuji keindahan arsitekturnya.

Wantimpres: Cermin atau Corong?

Fungsi Wantimpres, sebagaimana dijelaskan, adalah kedudukan yang bersifat etis — bukan sekadar teknis. Ia seharusnya menjadi cermin yang jujur: memperlihatkan apa yang mungkin tidak ingin dilihat oleh pemegang kendali. Namun di manakah letak bahayanya?

BACA JUGA :  KRISIS KEPERCAYAAN INSTITUSIONAL INDONESIA

Bahayanya terletak pada kemudahan mengubah pertimbangan etis menjadi pembenaran kebijakan. Ketika setiap keputusan sudah diputuskan sebelum dibahas, peran penasihat perlahan berubah — bukan lagi menguji arah, melainkan merangkai alasan agar keputusan itu tampak masuk akal. Di sinilah integritas diuji: apakah kebijakan diuji berdasarkan kebenaran, atau kebenaran yang disesuaikan agar cocok dengan kebijakan?

Tanpa Oposisi, Siapa yang Menahan?

Karena koalisi begitu lebar dan kokoh, suara penahan dari luar makin tersisih. Maka, tugas mengingatkan kini jatuh ke pundak mereka yang berada di dalam — termasuk Rocky. Loyalitas yang sehat bukan berarti selalu mengiyakan. Demikian pula kritik yang sehat bukan berarti menolak secara membabi buta. Namun realitas kekuasaan sering kali menyederhanakan segalanya: siapa yang tidak sejalan, dianggap menghambat; siapa yang menunjuk kekurangan, dianggap tidak mendukung.

Di sinilah tantangan sesungguhnya: menjaga kemandirian berpikir ketika semua orang di ruangan itu menundukkan kepala. Seorang penasihat yang berharga justru dibutuhkan ketika ia menyampaikan hal yang benar — meskipun tidak nyaman didengar. Tetapi berapa lama suara seperti itu dapat bertahan di ruangan yang dirancang untuk menyepakati, bukan mempersoalkan?

Penutup: Tetap di Atas Angin, Meski Berada di Dalam

Pada akhirnya, ujian terbesar bukanlah keberanian masuk — itu justru yang paling mudah. Ujian terbesar adalah tetap berdiri di atas angin meski berada di tengah badai kekuasaan.

BACA JUGA :  MBG SEBAGAI CONSTITUTIONAL INVESTMENT: Pendekatan GRC

Di sistem yang nyaris tanpa oposisi, keberanian seorang intelektual tidak diukur dari seberapa keras ia membentak dari luar. Ia diukur dari seberapa teguh ia berkata: “Mari kita berhenti sejenak. Ini mungkin salah arah.” — meskipun tidak ada yang mendukung, meskipun suaranya sendirian.

Posisi boleh berpindah. Tetapi kompas tidak boleh berubah.
Tempat duduk boleh berganti. Tetapi kebenaran tidak boleh ikut berganti arah.

Karena itulah yang sesungguhnya dibutuhkan bangsa ini: bukan orang yang mengikuti arah angin, melainkan orang yang tetap berdiri tegak — dan mengingatkan ke mana angin itu sebenarnya membawa kita.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Menolak Tegas Larangan Berhijab di Lingkungan Pendidikan Unhan RI
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img