Waktu, Komitmen, dan Retorika: Sebuah Refleksi Peradaban Bangsa
Oleh: Sobirin Malian
(Dosen FH UAD)
Waktu menjadi paling berharga ketika ia dipakai untuk melangkah maju. Sebaliknya, waktu yang berlalu tanpa membawa perubahan ke arah yang lebih baik, bukan lagi kemajuan — melainkan kerugian yang menumpuk. Bagi bangsa yang menjunjung etika dan cita-cita luhur, setiap detik adalah langkah menuju penyempurnaan. Negara-negara seperti itu menanamkan komitmen bukan di atas angin, melainkan di atas fondasi konstitusi, sejarah, dan kesetiaan pada janji bersama.
Belajar dari Negeri yang Menjaga Arah
Sinergi antara waktu dan kesetiaan pada tujuan tampak nyata pada Jepang. Melalui gelombang sejarah yang naik turun, bangsa ini membuktikan: komitmen bukan sekadar ucapan, melainkan kerja kesinambungan. Konsep kaizen — perbaikan yang tak henti-henti — menjadikan waktu bukan sekadar jam yang berputang, melainkan ladang penyempurnaan diri.
Di Tiongkok pun, meski dengan corak politik yang berbeda, terlihat hal serupa: perencanaan jangka panjang diletakkan di atas kepentingan sesaat. Bagi mereka, satu generasi menanam, generasi berikutnya memanen. Waktu berjalan lurus ke depan, bukan berputar di tempat.
Ketika Slogan Menggantikan Kenyataan
Kontras yang menyakitkan terlihat di negeri kita. Di sini, waktu seolah berhenti berjalan lurus — ia berputar mengikuti ritme pergantian kekuasaan. Komitmen yang diucapkan di atas panggung kerap berbalik arah begitu panggung diturunkan.
Ketika seorang pemimpin bersumpah akan membasmi korupsi sampai ke ujung dunia, sering kali itulah tanda bahwa praktik itu justru dilindungi. Jika akhirnya terseret ke pengadilan, hukuman yang dijatuhkan terasa seperti “diskon” — jauh dari rasa keadilan yang diharapkan rakyat.
Inilah jurang yang memisahkan kata dan kenyataan. Retorika menjadi tameng, janji menjadi bayang-bayang, dan setiap lima tahun sekali bangsa ini memulai ulang dari nol — atau bahkan mundur beberapa langkah.
Akar: Budaya Tunduk dan Kepalsuan yang Dimaafkan
Mengapa hal ini bisa berlangsung terus-menerus? Karena akar masalahnya bukan hanya di kursi kekuasaan, melainkan meresap ke dalam budaya. Warisan feodalisme membuat masyarakat terbiasa menunduk, bukan bertanya. Keselarasan semu dianggap lebih berharga daripada kebenaran yang menyakitkan.
Kita menjadi toleran terhadap janji yang diingkari. Kita terbiasa memaafkan ketidakjujuran demi “menjaga keharmonisan”. Padahal, inilah yang memberi ruang bagi para pemimpin untuk terus melukai kepercayaan — tanpa takut dipertanggungjawabkan.
Memutus Rantai, Menegakkan Arah
Tidak cukup hanya mengeluh. Diperlukan perubahan yang mendasar, radikal, dan tak kenal kompromi:
– Reformasi Hukum Tanpa Ampun — Hukum harus berhenti menjadi mainan politik. Koruptor tidak hanya diproses, tetapi benar-benar kehilangan segala hasil perampasan dan hak memegang kekuasaan seumur hidup. Efek jera bukan sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang tak bisa ditawar.
– Perencanaan yang Mengikat Lintas Generasi — Garis tujuan bangsa harus ditetapkan untuk puluhan tahun ke depan, tak tergantikan oleh siapa pun yang berkuasa. Pembangunan tidak boleh dimulai ulang setiap kali pemimpin berganti.
– Pendidikan Karakter Berbasis Kebenaran — Anak-anak dididik bukan hanya untuk hafal pelajaran, tetapi untuk berani menegakkan kebenaran, mempertanggungjawabkan ucapan, dan menuntut akuntabilitas dari siapa pun yang memegang amanah.
Penutup
Waktu tidak akan menunggu kita. Sementara bangsa lain berjalan teguh menuju masa depan, kita tidak boleh terus terjebak dalam lingkaran retorika yang sama. Komitmen tidak boleh lagi sekadar hiasan pidato — ia harus menjadi kompas yang tak tergoyahkan.
Karena pada akhirnya, bukan kata-kata yang menentukan kemuliaan sebuah bangsa, melainkan kesetiaan untuk melangkah sesuai apa yang diucapkan. Dan itulah peradaban sejati: ketika waktu, janji, dan perbuatan berjalan dalam satu arah.
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







