spot_img
spot_img
Senin, Oktober 5, 2026
BerandaOpiniKetika Negara Belajar dari Kecepatan Aktor Non-Negara

Ketika Negara Belajar dari Kecepatan Aktor Non-Negara

spot_img

HOUTI EFFECT

Ketika Negara Belajar dari Kecepatan Aktor Non-Negara

Oleh: Asdi Fitri
Forum Dialog Peradaban

Sebuah paradoks di tengah revolusi teknologi pertahanan

Ada sebuah paradoks yang menarik perhatian kita.

Di satu sisi terdapat Indonesia: sebuah negara berdaulat dengan wilayah yang luas, sumber daya manusia yang besar, universitas, lembaga riset, anggaran negara, BUMN, industri strategis, serta pengalaman panjang membangun industri pertahanan.

Di sisi lain terdapat Houthi di Yaman: sebuah aktor non-negara yang tidak memiliki industri pertahanan nasional dalam pengertian konvensional.

Namun dalam beberapa tahun terakhir Houthi mampu mengoperasikan dan memodifikasi berbagai sistem rudal dan kendaraan udara nirawak yang semakin kompleks.

Pertanyaan yang menarik bukanlah:

“Mengapa Houthi lebih hebat daripada Indonesia?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang dapat dipelajari sebuah negara dari kecepatan adaptasi teknologi yang diperlihatkan oleh aktor non-negara?”

Di sinilah Houthi Effect menjadi relevan.

Bukan teknologi dari ruang kosong

Houthi tidak menciptakan seluruh kemampuan tersebut dari nol.

Panel Ahli PBB menyatakan bahwa Houthi memperoleh dukungan eksternal yang penting dan, tanpa dukungan asing, belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan dan memproduksi sendiri berbagai sistem senjata kompleks. PBB juga menemukan berbagai komponen dan sistem yang menunjukkan keterkaitan dengan teknologi yang diproduksi Iran serta adanya jaringan pasokan eksternal.

Karena itu, istilah yang lebih tepat bukan “Houthi menciptakan teknologi sendiri”, melainkan:

technology transfer + external supply chain + adaptation + assembly + modification + operational learning.

Dan justru formula inilah yang menarik untuk dipelajari Indonesia.

Sebuah teknologi tidak selalu lahir karena seseorang menemukan segala sesuatu dari awal.

Kadang teknologi lahir karena seseorang mampu:

memperoleh → memahami → mengadaptasi → mengintegrasikan → memperbaiki → memproduksi.

Itulah inti Houthi Effect.

—

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar

Indonesia tidak memulai dari titik nol.

UU No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan telah menempatkan pembangunan industri pertahanan menuju kemandirian sebagai tujuan penting negara.

Indonesia juga telah membangun DEFEND ID yang terdiri dari PT Len Industri, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL dan PT Dahana. Pemerintah menempatkan holding ini sebagai bagian penting dalam penguatan kemandirian industri pertahanan nasional.

Perkembangan terbaru menunjukkan adanya upaya memperbesar kapasitas tersebut.

Pada Juli 2026 pemerintah melakukan groundbreaking fasilitas produksi munisi PT Pindad di Batulicin, Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari penguatan kapasitas produksi dan kemandirian industri pertahanan.

Pada April 2026 pemerintah juga menekankan pentingnya konsolidasi DEFEND ID, peningkatan kapasitas produksi, inovasi teknologi dan penguatan ekosistem industri pertahanan.

BACA JUGA :  Kekuasaan Perlu Tahu Etika dan Etiket

Bahkan kerja sama industri Pindad pada 2026 mencakup berbagai bidang teknologi dan produksi bersama dengan mitra dari Italia, Turki, Rumania, Tiongkok, Korea Selatan, Malaysia dan negara lainnya.

Dengan kata lain:

Indonesia tidak kekurangan institusi.

Yang menjadi pertanyaan adalah:

apakah seluruh institusi tersebut sudah bekerja sebagai satu mesin inovasi?

—

Dari industri pertahanan menjadi ekosistem pertahanan

Inilah titik yang menurut kami perlu diubah.

Industri pertahanan jangan hanya dipahami sebagai:

«pemerintah membeli → industri memproduksi → TNI menggunakan.»

Model seperti itu dapat menghasilkan produk.

Tetapi belum tentu menghasilkan learning system.

Model yang lebih maju adalah:

«TNI memberikan kebutuhan → universitas melakukan riset → BRIN mengembangkan teknologi → startup menguji inovasi → industri melakukan industrialisasi → pengguna melakukan evaluasi → industri memperbaiki produk → produksi meningkat → ekspor membuka skala ekonomi.»

Dengan demikian, setiap pembelian bukan menjadi titik akhir.

Ia menjadi awal dari generasi teknologi berikutnya.

—

Lima tahap menuju kemandirian

Indonesia membutuhkan sebuah National Defense Technology Acceleration Cycle.

Tahap I — TECHNOLOGY TRANSFER

Indonesia tidak harus menemukan seluruh teknologi sendiri.

Kerja sama internasional harus dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembelajaran.

Tetapi ukuran keberhasilannya bukan sekadar:

berapa unit produk yang berhasil dibeli?

Melainkan:

berapa banyak pengetahuan, desain, proses manufaktur, kemampuan pengujian dan SDM yang berhasil dikuasai?

—

Tahap II — REVERSE ENGINEERING

Produk yang diperoleh harus menjadi sumber pembelajaran teknologi.

Bukan untuk meniru secara ilegal.

Tetapi untuk memahami prinsip desain, material, manufaktur, elektronik, software dan integrasi sistem dalam batas hukum serta perjanjian yang berlaku.

Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada teknologi yang tidak dikuasai.

—

Tahap III — LOCALIZATION

Setelah memahami teknologinya, Indonesia harus bertanya:

komponen apa yang dapat diproduksi di dalam negeri?

Tidak semuanya harus langsung 100 persen lokal.

Tetapi komponen kritis harus dipetakan.

Misalnya:

– elektronik;
– sensor;
– material;
– baterai;
– sistem kendali;
– software;
– komunikasi;
– manufaktur presisi;
– komponen mesin.

Dari sini lahir peta ketergantungan teknologi nasional.

—

Tahap IV — INNOVATION

Setelah mampu membuat produk, jangan berhenti.

Indonesia harus mulai membuat:

produk generasi berikutnya.

Inilah perbedaan antara negara yang hanya menjadi manufaktur dengan negara yang menjadi pemilik teknologi.

—

Tahap V — MASS PRODUCTION

Teknologi yang berhasil tidak boleh berhenti sebagai prototipe.

Ini penyakit klasik banyak negara:

prototype berhasil → seremoni → dokumentasi → selesai.

Padahal kekuatan industri baru muncul ketika sebuah desain mampu diproduksi berulang dengan kualitas konsisten dan biaya semakin rendah.

BACA JUGA :  PP 48/2025: PANGKAS WAKTU 90 HARI, PEDANG BERMATA DUA UNTUK TANAH TERLANTAR DAN KEADILAN AGRARIA

Maka indikator keberhasilan bukan hanya:

“Indonesia mampu membuat.”

Tetapi:

“Indonesia mampu membuat dalam jumlah besar, konsisten, ekonomis dan terus memperbaikinya.”

—

Drone: universitas baru bagi industri pertahanan

Ada satu bidang yang sangat menarik untuk menjadi pintu masuk.

Drone.

Drone bukan sekadar alat militer.

Ia adalah sebuah platform pembelajaran teknologi.

Di dalam satu sistem UAV terdapat:

aerodinamika, material, propulsion, baterai, elektronik, sensor, komunikasi, navigasi, software, artificial intelligence dan manufaktur.

Karena itu pengembangan drone dapat menghubungkan:

kampus + startup + BRIN + BUMN + industri swasta + pengguna.

Indonesia sudah mulai membangun kemampuan tersebut melalui berbagai kerja sama industri dan pengembangan teknologi pertahanan. Kemhan juga pada 2026 mengembangkan konsep sistem pertahanan udara yang menekankan teknologi nasional, peningkatan TKDN dan transfer teknologi.

Tetapi paradigma yang diperlukan lebih besar:

«Jangan membangun satu produk drone. Bangun ekosistem drone.»

Dari ekosistem itulah teknologi baru akan lahir.

—

2026–2035: sebuah jalan menuju percepatan

Forum Dialog Peradaban dapat menawarkan sebuah kerangka sederhana:

2026–2027

MAPPING

Petakan seluruh ketergantungan teknologi strategis Indonesia.

Apa yang kita kuasai?

Apa yang kita impor?

Apa yang dapat dilokalkan?

Apa yang harus dikuasai dalam jangka panjang?

—

2028–2029

LOCALIZATION

Fokus pada komponen strategis dan rantai pasok.

Bangun jaringan industri besar–menengah–kecil.

Jangan hanya mengandalkan BUMN.

—

2030–2031

INTEGRATION

Satukan:

sensor + software + komunikasi + AI + platform + command and control.

Pertahanan masa depan bukan sekadar perlombaan jumlah platform.

Kemhan sendiri pada September 2026 menekankan bahwa interoperabilitas, data real-time, sensor, jaringan serta sistem komando dan kendali semakin menentukan operasi pertahanan modern.

—

2032–2033

INNOVATION

Mulai beralih dari:

technology buyer

menjadi:

technology developer.

Indonesia bukan lagi hanya membeli desain dari luar.

Indonesia mulai menghasilkan desain sendiri.

—

2034–2035

SCALE

Teknologi yang berhasil harus masuk ke produksi berskala besar.

Pada titik ini industri pertahanan tidak lagi semata-mata menjadi beban anggaran.

Ia dapat menjadi bagian dari ekonomi teknologi nasional, dengan pasar domestik sekaligus pasar ekspor sesuai regulasi dan kepentingan pertahanan negara.

—

Dari Penta Helix menuju Defense Innovation Helix

Di sinilah gagasan Penta Helix yang selama ini dibicarakan Forum Dialog Peradaban memperoleh ruang baru.

Kita membutuhkan lima kekuatan:

Government
Industry
Academia
Research
Society/Technology Community

Tetapi kelima unsur tersebut tidak boleh berjalan sendiri.

Mereka harus mempunyai satu orchestrator.

Bukan untuk menguasai semuanya.

Melainkan untuk memastikan:

riset menemukan jalan menuju industri, industri mendapatkan kebutuhan nyata, pemerintah menyediakan kepastian, kampus menghasilkan talenta, dan pengguna memberikan feedback.

BACA JUGA :  Radical Break Rocky Gerung dan Operasi Sandi Yudha Prabowo

Itulah ekosistem.

—

Houthi memberikan sebuah cermin

Houthi bukan model yang harus ditiru.

Houthi bukan negara.

Dan kemampuan mereka sangat terkait dengan dukungan eksternal, jaringan pasokan serta kondisi konflik yang tidak dapat disamakan dengan pembangunan industri pertahanan sebuah negara.

Tetapi fenomena tersebut memberikan sebuah cermin.

Teknologi bergerak cepat ketika siklus belajar bergerak cepat.

Sementara birokrasi cenderung bergerak lambat ketika setiap tahap berdiri sendiri.

Maka persoalan Indonesia bukan hanya:

berapa besar anggaran pertahanan?

Tetapi:

berapa cepat uang, ilmu pengetahuan, teknologi dan pengalaman berubah menjadi kemampuan nasional?

—

Penutup

Abad ke-21 mungkin tidak akan dimenangkan hanya oleh negara yang memiliki senjata paling mahal.

Ia akan dimenangkan oleh negara yang memiliki siklus pembelajaran teknologi paling cepat.

Karena teknologi berubah.

Drone berubah.

AI berubah.

Sensor berubah.

Material berubah.

Perang berubah.

Dan ketika teknologi berubah lebih cepat daripada siklus pengadaan, sebuah negara akan selalu tertinggal satu generasi.

Karena itu Indonesia membutuhkan paradigma baru:

«Bukan sekadar membeli alutsista.

Bukan sekadar membangun pabrik.

Bukan sekadar mengejar TKDN.

Tetapi membangun mesin pembelajaran teknologi nasional.»

Houthi menunjukkan bagaimana aktor non-negara dapat menggabungkan transfer teknologi, jaringan pasokan, adaptasi dan pengalaman operasional menjadi kemampuan yang terus berkembang.

Indonesia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar:

negara, manusia, ilmu pengetahuan, industri, pasar dan institusi.

Tantangannya tinggal satu:

mampukah seluruh kekuatan itu bergerak sebagai satu ekosistem?

Sebab pada akhirnya, kedaulatan teknologi bukanlah kemampuan untuk membuat segala sesuatu sendiri.

Kedaulatan teknologi adalah kemampuan untuk memastikan bahwa ketika dunia berubah, Indonesia tetap mampu belajar, beradaptasi, memproduksi dan menciptakan.

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna Houthi Effect bagi Indonesia:

«bukan belajar bagaimana membuat senjata lebih cepat, tetapi belajar bagaimana sebuah sistem belajar lebih cepat.»


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  KETIKA PROFESOR DUNIA MASUK KE KAMPUS INDONESIA
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img