Ngopi Sewarung
Uang yang Butuh Kita, Bukan Kita yang Butuh Uang
By Uten Sutendy
Selama ratusan tahun, seolah-olah telah menjadi norma umum bahwa manusialah yang membutuhkan uang. Seakan tanpa uang manusia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa bergerak, tidak bisa berkarya, bahkan tidak bisa menjalani kehidupan.
Terlebih setelah berbagai bentuk mata uang diciptakan dan digunakan dalam kehidupan manusia, uang semakin menempati posisi yang sangat penting. Akibatnya, manusia mulai mengejar, mengumpulkan, menyimpan, bahkan menumpuk uang. Tidak sedikit yang akhirnya menjalani hidup seolah-olah hanya untuk uang.
Bangun pagi berpikir tentang uang. Bekerja mengejar uang. Membuat usaha demi uang. Bahkan memilih pasangan hidup, pekerjaan, jabatan, hingga pemimpin pun kadang diukur dari seberapa besar kekayaan dan kemampuan finansialnya.
Pelan-pelan, manusia bukan lagi menggunakan uang sebagai alat untuk menjalani kehidupan, tetapi justru menjadikan hidup sebagai alat untuk mendapatkan uang.
Di situlah persoalan bermula.
Ketika uang menjadi tujuan utama, manusia berpotensi menjadi budak dari sesuatu yang sesungguhnya hanyalah alat.
Uang memang bisa membeli banyak hal. Tetapi uang tidak selalu mampu membeli kehidupan. Ia tidak bisa membeli waktu yang telah berlalu, ketulusan, kasih sayang, kehormatan, kedamaian batin, apalagi kehidupan setelah kematian.
Lalu, sebenarnya siapa yang membutuhkan siapa?
Apakah manusia yang membutuhkan uang, atau uang yang membutuhkan manusia?
Coba kita lihat dari sisi yang berbeda.
Pada dasarnya uang hanyalah kertas, angka dalam rekening, atau kepingan logam. Ia tidak memiliki nilai dengan sendirinya. Nilai itu diberikan oleh manusia melalui kesepakatan, kepercayaan, kerja, dan aktivitas kehidupan.
Selembar uang yang terbakar hanya menjadi abu. Kepingan logam yang tidak digunakan hanya menjadi benda mati. Angka yang besar di rekening pun tidak berarti apa-apa jika tidak memiliki daya guna bagi kehidupan.
Dengan kata lain, uang membutuhkan manusia agar memiliki nilai dan fungsi.
Lebih jauh lagi, uang membutuhkan manusia yang memiliki nilai.
Manusia yang memiliki ilmu, keterampilan, kreativitas, kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan memberi manfaat kepada sesama akan menciptakan nilai. Dari nilai itulah lahir karya, kepercayaan, kesempatan, dan pada akhirnya nilai ekonomi.
Jadi, barangkali yang harus kita kejar bukanlah uang.
Yang harus kita kejar adalah nilai diri.
Jangan sibuk bertanya, “Bagaimana mendapatkan lebih banyak uang?”
Sesekali bertanyalah kepada diri sendiri:
“Nilai apa yang bisa saya berikan kepada kehidupan?”
Sebab ketika nilai kita bertambah, manfaat kita bertambah. Ketika manfaat kita bertambah, kepercayaan orang kepada kita bertambah. Dan ketika kepercayaan serta manfaat itu tumbuh, peluang ekonomi pun akan mengikuti.
Uang seharusnya datang sebagai akibat dari nilai yang kita ciptakan, bukan menjadi tujuan yang mengendalikan seluruh kehidupan kita.
Maka, jangan jadikan diri kita hamba uang.
Jadilah manusia yang bernilai.
Teruslah belajar.
Teruslah berkarya.
Teruslah memberi manfaat.
Teruslah menjaga integritas.
Karena semakin besar nilai yang kita berikan kepada kehidupan, semakin besar pula kemungkinan kehidupan memberikan nilai kembali kepada kita.
Pada akhirnya, bukan uang yang membuat manusia bernilai.
Manusialah yang memberi nilai kepada uang.
Maka jadilah manusia bernilai.
Sebab ketika kita menjadi manusia yang bernilai, hidup bukan hanya tentang berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi tentang seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih berarti karena kehadiran kita.
Get the feeling
Mr. Ten
DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.







