spot_img
spot_img
Kamis, Oktober 29, 2026
BerandaNewsSutoyo Abadi: Teriakan Cukup di Jalanan Jadi Alarm Darurat, Kesabaran Kolektif Rakyat...

Sutoyo Abadi: Teriakan Cukup di Jalanan Jadi Alarm Darurat, Kesabaran Kolektif Rakyat Telah Robek

spot_img

Sutoyo Abadi: Teriakan Cukup di Jalanan Jadi Alarm Darurat, Kesabaran Kolektif Rakyat Telah Robek

INDOVIEWNEWS.COM, JAKARTA — Koordinator Kajian Politik Merah Putih Sutoyo Abadi menilai gelombang aksi demonstrasi yang menggemakan teriakan “Cukup, Cukup, Cukup” menjadi alarm darurat atas robeknya kesabaran kolektif masyarakat.

Hal itu disampaikan Sutoyo bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, Rabu (29/10/2026).

Menurut Sutoyo, seruan tersebut bukan luapan emosi sesaat, melainkan manifestasi penolakan terhadap kebijakan yang dinilai menindas dan mengabaikan aspirasi publik.

“Teriakan ‘Cukup, Cukup, Cukup’ yang membahana dalam gelombang aksi demonstrasi belakangan ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ia adalah manifestasi dari batas kesabaran kolektif yang telah robek,” kata Sutoyo dalam keterangannya, Rabu (29/10/2026).

Ia menjelaskan, frasa “satu kata, satu suara” menunjukkan keteguhan sikap massa untuk meleburkan berbagai tuntutan dalam satu pesan politik yang sederhana dan mudah dipahami.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi: Indonesia Kehilangan Waktu Sejak 2014, Ekonomi Vietnam Melesat dan Indonesia Tertinggal

“Kata ‘Cukup’ memuat makna esensial: sebuah penolakan absolut dan desakan untuk segera berhenti. Ini bukan lagi keluhan di ruang-ruang diskusi ber-AC, melainkan sebuah ultimatum agar penyelenggara negara lekas menghentikan praktik-praktik kebijakan ugal-ugalan,” ujarnya.

Sutoyo menyebut, pilihan diksi yang ringkas menciptakan simbol perlawanan yang efektif dan memberi tekanan moral bagi pemegang kekuasaan.

Sementara itu, seruan “satu suara dari seluruh anak bangsa” dinilai sebagai klaim legitimasi rakyat yang otentik dan bukan kepentingan kelompok kecil.

“Ini adalah representasi kekecewaan lintas sektoral, peleburan suara mahasiswa, buruh, kelas pekerja, kaum miskin kota, hingga masyarakat sipil yang geram melihat arah kemudi negara,” ucapnya.

Menurut Sutoyo, pengulangan kata “Cukup” mencerminkan eskalasi emosi dan kejenuhan publik yang menuntut respons konkret, bukan retorika.

BACA JUGA :  Pengamat Kebijakan Publik Soroti Gaya Bicara Prabowo: Disebut Tumbuh dari Lingkungan Kasar dan Tidak Beretika

“Publik menuntut respons konkret, bukan sekadar retorika kosong, pencitraan hampa, atau janji manis di atas kertas,” katanya.

Ia menegaskan, jeritan massa tersebut lahir ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan sistemik, mulai dari ketimpangan ekonomi, beban kebijakan yang mencekik, hingga menyempitnya ruang demokrasi.

“Maka, esensi paling tajam dari seruan hari ini adalah sebuah peringatan terakhir: Berhentilah membodohi rakyat. Negara harus ingat: Jangan pernah sekali-kali menganggap rakyat bodoh,” pungkasnya.

Hingga berita ini turun belum ada tanggapan dari pihak yang disebutkan narasumber. Media membuka ruang sanggahan, klarifikasi dan akan ditayangkan.


DISCLAIMER : Khusus berita OPINI dalam Rubrik/Kanal OPINI adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya, sehingga setiap berita opini di kanal OPINI sepenuhnya menjadi tanggung jawab PENULIS. Oleh karenanya INDOVIEWNEWS.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan OPINI, maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada PENULIS OPINI atau dapat dikirimkan kepada redaksi INDOVIEWNEWS.COM melalui email yang tertera dalam box redaksi kami. nantinya redaksi INDOVIEWNEWS.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

BACA JUGA :  Sutoyo Abadi Ingatkan Prabowo soal Krisis Konstitusi, Maklumat Yogyakarta Dorong Kembali ke UUD 1945 Asli
spot_img
Must Read
spot_img
Populer
spot_img